Sejarah Singkat Kerajaan Kutai Martadipura

Sejarah Singkat Kerajaan Kutai Martadipura

Kerajaan "Kutai Martadipura" merupakan salah satu kerajaan bercorak Hindu yang ada di Nusantara. Kerajaan Kutai dikenal sebagai kerajaan Hindu tertua berdiri sejak abad ke 4 letaknya berada di daerah Kalimantan Timur. Nama "Kutai" diambil dari tempat ditemukannya prasasti-prasasti yang menunjukkan bahwa kerajaan tersebut pernah ada. Informasi tentang kerajaan ini memang terbatas sehingga tidak ditemukannya prasasti yang secara jelas dapat menyebutkan nama dari kerajaan tersebut. Sumber utama yang menjadi penelitian oleh para ahli yaitu adanya sebuah "Yupa" (disebut sebagai prasasti dalam sebuah upacara pengorbanan). Yupa merupakan sebuah tugu batu bertujuan untuk simbol peringatan atas kedermawanan seorang raja, tugu ini dibuat oleh para Brahman. Pada salah satu Yupa tersebut diketahui adanya petunjuk bahwa raja pada saat itu bernama Mulawarman.


Raja Mulawarman adalah putra dari Asmawarman dan cucu dari Kundungga. Kundungga merupakan pembesar dari salah satu kerajaan yang ada di Kamboja yaitu Kerajaan Campa. Kundungga atau kakek dari Raja Mulawarman sendiri diketahui belum menganut agama Hindu. Menurut para ahli, nama "Kundungga" ditafsirkan bahwa nama tersebut merupakan nama asli orang Indonesia dan belum ada pengaruh nama dari budaya India. Sedangkan putranya "Asmawarman", ditafsirkan bahwa namanya sudah terpengaruh oleh nama dari budaya Hindu. Hal ini didasarkan bahwa nama tersebut "Warman" merupakan kata yang diambil dari bahasa sansekerta.

Pada masa pemerintahan Raja Mulawarman, Kerajaan Kutai Martadipura mengalami masa kejayaan. Hal tersebut dijelaskan oleh para ahli dengan dasar dari Yupa yang ditemukan. Wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai mencakup hampir seluruh Kalimantan Timur. Namun nama Kerajaan Kutai Martadipura ini sangat sedikit yang mendengarnya karena kurangnya komunikasi dengan pihak asing. Hal ini disebabkan pula karena seluruh rakyatnya sudah mampu hidup makmur dan sejahtera sehingga memang jarang sekali mereka berinteraksi dengan pihak dari luar kerajaan.

Masa akhir Kerajaan Kutai Martadipura ditandai dengan tewasnya Raja Kutai yang pada saat itu dijabat oleh "Maharaja Dharma Setia" dalam sebuah peperangan. Maharaja Dharma Setia tewas ditangan Aji Pangeran "Anum Panji Mendapa" tidak lain adalah Raja Kutai Kartanegara ke 13. Perlu digaris bawahi bahwa "Kerajaan Kutai Kartanegara" saat itu beribukota di Tanjung Kute / Kutai Lama berbeda dengan "Kutai Martadipura".
Read more »
Ulasan Mengenai Sistem Pemerintahan Kerajaan Demak

Ulasan Mengenai Sistem Pemerintahan Kerajaan Demak

Sistem Pemerintahan Kerajaan Demak – Kesultanan Demak atau Kerajaan Demak adalah kerajaan islam pertama di Pulau Jawa. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478 tepatnya sekitar akhir abad ke 15. Raden Patah adalah seorang bangsawan yang berasal dari Kerajaan Majapahit. Dimana pada masa itu Majapahit merupakan kerajaan terbesar di Pulau Jawa.

Lokasi Kerajaan Demak terletak di daerah Bintoro yang tak jauh dari muara sungai Demak. Untuk pusat pemerintahannya sendiri terletak antara Jepara dan Pelabuhan Bergota. Semula Kerajaan Demak merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit, kemudian memilih untuk memisahkan diri menjadi Kesultanan Demak atau yang lebih dikenal sebagai Kerajaan Demak.

Sistem Pemerintahan Kerajaan Demak


Setelah awal pendiriannya, Kerajaan Demak mengalami kemajuan dimana letaknya yang begitu strategis membuat kerajaan islam di Jawa ini mendapatkan pengaruh yang sangat positif. Letak kerajaan yang berada di daerah pantai, membuat Kerajaan Demak dijadikan sebagai pintu pembuka hubungan antara negara luar.

Selain itu letaknya yang dekat dengan Pelabuhan Bergoda Semarang, menjadikan pelabuhan ini sebagai pusat kegiatan Ekspor dan Import yang dilakukan oleh Kerajaan Demak. Kejayaan Demak semakin terlihat setelah Kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan. Namun disamping kejayaannya pada masa Raden Patah, sistem pemerintahan Kerajaan Demak yang dipimpin oleh para raja setelahnya pun juga memiliki andil yang cukup besar.

Berikut Nama-Nama Raja yang Pernah Memimpin Kerajaan Demak


1. Raden Patah (1478 – 1518 M)


Raden Patah adalah seorang pendiri Kerajaan Demak sekaligus menjadi raja pertama yang memimpin Demak. Pada masa kepemimpinan Raden patah, Kerajaan Demak terus mengalami kemajuan hingga mancapai kejayaannya. Dengan dibantu para Wali, Kerajaan Demak terus memperluas daerahnya yang meliputi wilayah Jepara, Semarang, Rempang, Pati, hingga ke Selat karimata.

Selain terus memperluas wilayahnya hingga ke pelosok Kalimantan, Kerajaan Demak juga menguasai beberapa pelabuhan penting di Jawa yaitu Pelabuhan Tuban, Gresik, Sedatu, Jepara dan Jaratan. Peran bantuan dari Wali Songo cukup memberikan kemajuan pada Demak, dimana selain menguasai beberapa pelabuhan di Pulau Jawa. Kerajaan Demak juga menjadi pusat penyebaran agama islam terbesar di Pulau Jawa.

2. Pati Unus (1518 – 1521 M)


Setelah Raden Patah wafat pada tahun 1518 M, tahta Kerajaan Demak kemudian beralih ke putra mahkota sekaligus pemimpin armada perang bernama Pati Unus. Pada masa kepemimpinan Raden Patah, Pati Unus tampil menjadi pimpinan armada perang Demak dalam melawan bangsa Portugis kala itu. Meskipun serangan tidak berhasil karena bangsa Portugis lebih unggul dalam senjatanya. Namun peran Pati Unus begitu besar untuk Demak.

Pati Unus sendiri mendapatkan julukan sebagai “Pangeran Sebrang Lor”, meskipun sistem perintahan Kerajaan Demak tidak terlalu lama dipegangnya, hanya sekitar 3 tahun saja. Namun pada masa kepemimpinan Pati Unus Demak mampu bertahan ditangan jajahan bangsa Portugis.

Setelah 3 tahun kepemimpinannya, Pati Unus wafat pada tahun 1521 tanpa meningglkan seorang putra. Kemudian kursi tahta Kerajaan Demak digantikan oleh adiknya yang bernama Raden Trenggono yang memiliki gelar Sebagai Sultan Trenggono.

3. Sultan Trenggono (1521 – 1546 M)


Sultan Trenggono merupakan pemimpin Kerajaan Demak ketiga yang menggantikan kepemimpinan Pati Unus. Ia adalah adik dari Pati Unus yang merupakan anak ketiga dari Raden Patah. Sistem pemerintahan Kerajaan Demak dibawah kepemimpinan Sultan Trenggono mulai menapaki kejayaannya kembali. Terbukti wilayah Demak memperluas wilayahnya hingga ke daerah bagian barat Pulau Jawa.

Pada tahun 1522, sebuah armada laut Demak dibawah kepemimpinan Raden Fatahillah mengadakan penyerangan kepada pihak Portugis. Yang mana pada saat itu Portugis telah bekerja sama dengan Kerajaan Padjajaran untuk menguasai daerah Sunda Kelapa.

Pada tahun 1527, Kerajaan Demak berhasil merebut Sunda Kelapa dari tangan Bangsa Portugis. Setelah keberhasilannya merebut kembali daerah Sunda Kelapa yang diubah menjadi Jayakarta yang sekarang menjadi DKI Jakarta. 

Kemudian pada masa itu Sultan Trenggono memiliki rencana untuk memperluas daerahnya dengan tujuan utama wilayah Pasuruan Jawa Timur. Namun sayang, sebelum keberhasilannya menduduki wilayah Pasuruan, Sultan Trenggono telah lebih dulu wafat pada tahun 1546 M.

Sistem Pemerintahan Kerajaan Demak Usai Dipimpin Sultan Trenggono


Setelah sepeninggalam Sultan Trenggono, sistem pemerintahan Kerajaan Demak menjadi bahan perebutan antara Sunan Prawoto yang merupakan anak sulung dari Sultan Trenggono dan Pangeran Sekar yang merupakan kakak dari Sultan Trenggono. Tidak lama setelah itu Pangeran Sekar wafat dan Sunan Prawoto naik tahta.

Dalam masa kepemimpinan Sunan Prawoto, Demak mengalami pemberontakan dari Arya Penangsang yang merupakan anak dari Pengeran Sekar. Terjadilah peperangan yang begitu hebat hingga Sunan Prawoto gugur dalam usahanya mempertahankan tahta kerajaan. Namun pemberontakan masih terus berlanjut. Dimana niat Joko Tingkir yang merupakan menantu Sultan Trenggono dalam mengalahkan Arya Penangsang masih belum berhasil.

Dengan terus adanya pergejolakan di dalam sistem pemerintahan Kerajaan Demak, kerajaan ini mengalami kehancuran totol setelah berturut-turutnya perang saudara yang dilakukan oleh orang dalam Kerajaan Demak sendiri. Selain itu masalah ekonomi dan hubungan antar luar negeri pun juga menjadi tak karuhan. 

Baca juga ::
Demikian ulasan mengenai sejarah sistem pemerintahan Kerajaan Demak. Semoga ulasan sejarah ini dapat menambah wawasan para pembaca untuk mengenal lebih dekat kerajaan-kerajaan di Indonesia termasuk tentang sistem pemerintahan Kerajaan Demak sendiri.
Read more »
Sejarah Sistem Pemerintahan Kerajaan Singasari

Sejarah Sistem Pemerintahan Kerajaan Singasari

Kerajaan yang dulu berada di kawasan Jawa Timur ini didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222 M. Jika diperkirakan pada zaman sekarang, kerajaan ini berlokasikan di daerah Singosari, Kabupaten Malang. Kerajaan Singosari yang ber ibu kotakan di Tumapel ini hanya bertahan selama 70 tahun semenjak kerajaan ini didirikan. Hal ini karena adanya Sistem Pemerintahan Kerajaan Singasari yang berubah-ubah.

Sejarah Sistem Pemerintahan Kerajaan Singasari


Sebelum Kerajaan Singasari berdiri di bawah kekuasaan Ken Arok. Ken Arok masih menjabat sebagai Bupati di Tumapel menggantikan Tunggul Ametung yang meninggal karena dibunuh olehnya sendiri. Sebelum Tumapel menjadi ibu kota Kerajaan Singasari, Tumapel masih di bawah naungan Kerajaan Kediri. Yang akan dibebaskan oleh Ken Arok dari kekuasaan Kediri. Oleh sebab itu lah kepemimpinan beralih ke tangan ken Arok.

Raja Ken Arok | 1222 - 1227

Dalam kitab Paraton peninggalan dari kerajaan Singasari menyebutkan bahwa raja pertama sekaligus pendiri Kerajaan Singasari yaitu Ken Arok. Dan akan memerintah dalam kisaran tahun 1222 – 1227 M. Pemerintahan yang hanya berjalan selama 5 tahun di bawah kepemimpinan ken Arok harus berakhir. Karena dibunuh oleh suruhan Anuspati yang tidak lain merupakan anak tiri dari Ken Arok sendiri. Raja yang gugur karena dibunuh ini bergelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabumi.

Raja Anuspati | 1227 - 1248

Setelah Ken Arok meninggal, kepemimpinan secara otomatis beralih kepada anak tiri Ken Arok yaitu Raden Anuspati. Yang memerintah dalam kisaran waktu 1227 – 1248. Bukan kemajuan yang dialami oleh kerajaan Singasari, malah kebobrokan seorang Raja secara jelas ditampilkan. Sehingga kerajaan yang masih tergolong baru ini tenggelam sementara. Karena gaya kepemimpinan hedon yang di bawah pimpinan Anuspati tidak mendulang prestasi yang baik.

Ketika Anuspati tengah menikmati kesenangan yang berupa kegiatan sabung ayam. Dengan secara tiba-tiba Tohjoyo yang sangat muak dengan gaya kepemimpinan Anuspati langsung membunuh Anuspati. Dengan bilah keris buatan Empu Gandring, sehingga menyebabkan Anuspati meninggal dunia yang didharmakan di Candi Kidal.

Raja Tohjoyo

Sepeninggal Anuspati di tangan Tohjoyo, membuat Tohjoyo duduk di kursi pemerintahan Singasari menggantikan Anuspati. Namun seperti yang sudah terjadi sebelumnya, pemerintahan yang berlandaskan pertumpahan darah tidak akan berjalan lama. Anak dari Anuspati menaruh dendam terhadap Tohjoyo. Dendam tersebut terbesit ingin menurunkan tahta kerajaan yang saat itu berada di bawah kepemimpinan Tohjoyo.

Niat itu akhirnya terwujud. Dengan bantuan Mahesa Cempaka, Ranggowuni yang merupakan anak dari Anuspati berhasil menggulingkan kekuasaan Tohjoyo. Setelah Tohjoyo turun dari kekuasaannya, secara otomatis kerajaan pindah kekuasaan ke tangan Rongowuni.

Raja Ronggowuni | 1248 - 1268

Ronggowuni berkuasa pada kisaran antara tahun 1248 – 1268 dengan warisan gelar Sri Jaya Wisnuwardana. Setelah bertahun-tahun berkutat dengan pertumpahan darah akibat saling membunuh satu sama lain. Akhirnya di bawah kepemimpinan Ranggowuni, Singasari kembali kepada masa kejayaannya. Rakyat merasa tentram dan penuh dengan kesejahteraan. Setelah cukup lama memerintah di kerajaan Singasari, Ranggowuni menunjuk putra mudanya sebagai raja muda.

Raja Kartanegara | 1268 - 1292

Menunjuk Kertanegara, putra Ranggowuni menjadi raja muda bukan tanpa maksud dan tujuan. Ranggowuni mempersiapkan Kertanegara untuk menjadi raja yang besar di Kerajaan Singasari. Usaha ayahnya tersebut membuahkan hasil. Setelah naik tahta, Kertanegara mengemban amanah ayahnya dengan sangat baik.

Di masa pemerintahannya yang berada pada kisaran 1268 – 1292 membuktikan bahwa dia mampu menjadi raja yang besar di bidang politik. Selain itu ia terkenal sebagai raja yang memiliki cita-cita ingin meluaskan kawasan Singasari yang meliputi seluruh kawasan Nusantara.

Usaha-usaha yang telah dilakukan untuk memperluas kawasan kerajaan sangat banyak, diantaranya:
Kertanegara mengirimkan sebuah perjalanan menuju Melayu. Bertujuan untuk menghidupkan kerajaan Melayu di kawasan Jambi yang tak lain untuk menyaingi kekuasan kerajaan Sriwijaya.

Tidak hanya mengirimkan ekspedisi ke kawasan elayu di Jambi, Kertanegara mengirimkan ekspedisi pula ke kawasan Bali untuk memperluas kerajaannya. Usahanya berhasil dalam menaruh pengaruh, kepercayaan, dan kekuasaannya di sana.

Tahun 1286 Kertanegara mengirimkan sebuah Patung beserta pengiringnya yang berjumlah 14 kepada raja melayu.

Upaya yang selanjutnya dilakukan oleh Kertanegara yaitu pada tahun 1289 ia mendudukkan beberapa kawasan Jawa Barat di suatu tempat. Seperti Pahang ditempatkan di kawasan Melayu, dan Tanjungpura didudukkan di kawasan Kalimantan. Hal itu dilakukan karena daerah-daerah tersebut dianggap strategis untuk menghadang ekspansi tentara Mongol.

Tidak hanya pemerintahan yang berkembang pesat di bawah kepemimpinan Kertanegara, namun juga perkembangan agama juga sangat berkembang di sana. Di Singasari telah berkembang pusat peradaban agama Budha dengan aliran Tantrayana. Aspek lainnya pun seperti sektor pertanian, perdagangan serta pelayaran juga mampu dikembangkan oleh Kertanegara selama masa kepemimpinannya.

Kejayaan Singasari harus runtuh ketika Kertanegara dibunuh oleh Jaya Katwang seorang raja dari Kediri. Beberapa peninggalan kerajaan Singasari ini yaitu berupa beberapa Candi diantaranya Candi Kidal, Candi Jago dan Candi Singasari. Selain itu beberapa patungpeninggalan pun juga menjadi saksi sejarah bahwa Singasari pernah ada dan pernah jaya. Patung-patung tersebut antara lain patung Ken Dedes sebagai lambang kesempurnaan ilmu, Patung Kertanegara dan Patung Amogapasha.

Baca juga :
Read more »
Mengupas Sistem Kerajaan Majapahit Lengkap

Mengupas Sistem Kerajaan Majapahit Lengkap

Sistem Pemerintahan Kerajaan Majapahit – Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan terbesar di Jawa yang didirikan oleh Raden Wijaya. Wilayah kekuasaannya pada waktu pemerintahan Hayam Wuruk dibantu oleh Patih Gajah Mada meliputi seluruh wilayah Nusantara dan semenanjung Melayu.

Kerajaan Majapahit memiliki sebuah struktur pemerintahan dan birokrasi yang bagus. Hal ini dapat dilihat dari rakyat dan pejabat kerajaan mempunyai hubungan yang terjalin baik sehingga rakyat mendapatkan keadilan dan kesejahteraan

Sekilas Tentang Kerajaan Majapahit


Pendiri Kerajaan Majapahit adalah Raden Wijaya. Ia dinobatkan sebagai raja pertama dengan gelar Prabu Kertarajasa Jayawardhana. Raden Wijaya memerintah Majapahit selama 16 tahun.

Raden Wijaya kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Kalagemet. Ia bergelar Sri Jayanegara. Raja Jayanegara dibunuh oleh Rakryan Dharmaputra Winehsuka Tanca, seorang tabib yang dendam terhadap Jayanegara pada tahun 1328 M.

Jayanegara kemudian digantikan oleh saudara perempuannya bernama Tribuwanatunggadewi. Pada pemerintahan Tribuwanatunggadewi, Gajah Mada yang pada saat itu memerintah Daha dan Kahuripan dinaikkan pangkatnya menjadi Mahapatih Amangkubhumi. Gajah Mada kemudian mengucapkan ikrarnya yang dikenal dengan sumpah palapa.

Tribuwanatunggadewi memiliki putra bernama Hayam Wuruk yang kemudian diangkat menjadi raja menggantikan ibunya pada tahun 1350 M. Hayam Wuruk bersama Gajah Mada berhasil membawa kerajaan Majapahit ke puncak kebesarannya dengan menakhlukan seluruh wilayah Nusantara dan Semenanjung Melayu. Namun Nusantara kembali pecah belah setelah Gajah Mada dan Hayam Wuruk wafat.

Sistem Pemerintahan Kerajaan Majapahit


Dalam sistem kerajaan Majapahit, raja dianggap sebagai penjelmaan dewa dan memegang kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan. Sistem pemerintahannya dipimpin oleh raja dan dibantu oleh putra raja, kerabat raja dan beberapa pejabat pemerintah.

Raja juga dibantu oleh dewan pertimbangan kerajaan atau Bhatara Saptaprabu. Tugas lembaga ini adalah memberikan pertimbangan serta nasehat kepada raja. Anggota dewan pertimbangan ini terdiri dari para sanak saudara raja.

Tiga lembaga pemerintahan di Kerajaan Majapahit


1. Sapta Prabu

Sapta Prabu merupakan sebuah dewan kerajaan yang bertugas mengurusi soal keluarga raja dan penggantian mahkota. Selain itu dewan ini juga menangani urusan-urusan negara yang berhubungan dengan kebijaksanaan raja.

2. Dewan Menteri Besar

Lembaga pemerintahan selanjutnya adalah Dewan Menteri Besar yang mempunyai tugas untuk mengepalai urusan tata negara serta urusan angkatan perang.

3. Dewan Menteri Kecik

Dewan Menteri mempunyai tugas sebagai pelaksana kebijaksanaan raja.

Kerajaan Majapahit memiliki struktur pemerintahan dan birokrasi yang teratur pada masa pemerintahan Hayam Wuruk bersama Patih Gajah Mada. Struktur pemerintahannya tidak mengalami perubahan. Raja masih dianggap sebagai penjelmaan dewa dan memegang otoritas politik tertinggi. Sehingga rakyat wajib patuh dan menuruti segala perintah raja.

Berkat kepemimpinan Hayam Wuruk dan Gajah Mada juga kehidupan politik dan stabilitas nasional Majapahit terjaga. Hal ini disebabkan karena begitu kuat dan tangguhnya tentara Majapahit dan angkatan lautnya. Kerajaan Majapahit juga menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan lain seperti Negara Siam, Birma, Kamboja, India dan Cina.

Kehidupan Politik Kerajaan Majapahit


Raden Wijaya

Raden Wijaya merupakan pendiri Kerajaan Majapahit. Para pengikut setia Raden Wijaya diberi kedudukan tertinggi dalam pemerintahan. Tetapi masih banyak yang tidak puas dengan kedudukan yang diperolehnya sehingga pada masa Raden Wijaya ini memerintah banyak terjadi pemberontakan.

Sri Jayanegara

Setelah Raden Wijaya meninggal, digantikan oleh putranya yang bernama Sri Jayanegara. Banyak terjadi pemberontakan pada masa pemerintahan Sri Jayanegara. Hal ini karena Sri Jayanegara merupakan raja yang lemah. Pemberontakannya adalah dari Nambi, Semi dan Kuti.

Pemberontakan dari Kuti adalah yang paling berbahaya. Pemberontakan ini berhasil membuat Jayanegara melarikan diri di bawah perlindungan pasukan Bayangkara yang dipimpin oleh Gajah Mada. Berkat jasanya yang besar mengusir pemberontakan Kuti, Gajah Mada diangkat menjadi patih.

Tribuanatunggadewi

Saat Sri Jayanegara meninggal karena dibunuh oleh tabib kerajaan, pemerintahan Kerajaan Majapahit digantikan oleh adiknya yang bernama Tribuanatunggadewi. Berkat bantuan dan saran dari patih Gajah Mada pemerintahan Tribuanatunggadewi berjalan lancar walaupun masih banyak terjadi pemberontakan.

Pada tahun 1331 ada pemberontakan dari Sadeng yang dapat ditumpas oleh Gajah Mada. Berkat jasanya yang besar, kali ini Patih Gajah Mada naik pangkat menjadi mahapatih. Pada saat itu, Mahapatih Gajah Mada mengucapkan sumpahnya untuk menyatukan Nusantara atau yang lebih dikenal dengan Sumpah Palapa.

Hayam Wuruk

Sepeninggal Tribuanatunggadewi, Majapahit diperintah oleh Hayam Wuruk yang bergelar Sri Rajasanagara. Hayam Wuruk didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada berhasil mencapai puncak kebesaran Kerajaan Majapahit. Daerah kekuasannya meliputi seluruh Nusantara dan Semenanjung Malaya. Dengan kekuasannya yang luas berarti Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada benar-benar terwujud.

Setelah Hayam Wuruk wafat, terjadilah perebutan kekuasan di antara putra-putri Hayam Wuruk. Raja terakhir Kerajaan Majapahit adalah Dyah Kertawijaya. Berkembangnya agama Islam di pesisir Jawa yang diikuti oleh berdirinya Kerajaan Demak membuat Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran.

Baca juga :

Demikian ulasan mengenai sistem pemerintahan Kerajaan Majapahit. Semoga ulasan mengenai sistem pemerintahan Kerajaan Majapahit ini bisa menambah wawasan sejarah bagi kita semua.
Read more »
Mengulas Sejarah Sistem Pemerintahan Kerajaan Tarumanegara

Mengulas Sejarah Sistem Pemerintahan Kerajaan Tarumanegara

Sistem Pemerintahan Kerajaan Tarumanegara – Kerajaan Tarumanegara atau Taruma merupakan kerajaan tertua di Pulau Jawa. Taruma sendiri pernah berkuasa di wilayah Barat Pulau Jawa sekitar abad ke 4 hingga abad ke 7 M. Sebagai kerajaan tertua di Nusantara setelah Kerajaan Kutai, menurut catatan sejarah kerajaan ini menganut agama Hindu beraliran Dewa Wisnu.

Berdasarkan bukti sejarah yang telah ditemukan para ahli seperti Arca, Prasasti, dan benda-benda lainnya. Kerajaan Tarumanegara runtuh kerena mendapatkan serangan dari Kerajaan Sriwijaya yang pada masa itu memiliki andil besar bagi kerajaan-kerajaan di sekitar Pulau Jawa. Pada masa tersebut kerajaan ini memiliki sistem pemerintahan yang hingga saat ini masih terdapat bukti yang bisa diulas.

Sistem Pemerintahan Kerajaan Tarumanegara

Menurut naskah Wangsakerta, Kerajaan Tarumanegara pertama kali didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M. Dulunya kerajaan ini merupakan kelanjutan dari peninggalan Kerajaan Salakanegara yang berdiri 130 M – 362 M. Saat berdirinya kerajaan Taruma beribukota di Rajatapura yang merupakan Ibukota Salakanegara berpindah ke Tarumanegara dan berubah menjadi kerajaan daerah.

Selama masa berdirinya, tercatat sistem pemerintahan Kerajaan Tarumanegara pernah dipimpin oleh 12 raja yang memiliki karakter dan penguasaannya masing-masing. Hingga pada masa itu, kerajaan ini mampu menahklukan hingga sebagian besar Pulau Jawa. Luas kerajaan sendiri diperkirakan hampir sama dengan Pulau Jawa.

Nama-Nama Raja yang Pernah Memerintah di Kerajaan Tarumanegara


1.Jayasingawarman (358 – 382 M)

Raja Jayasingawarman merupakan raja pertama sekaligus pendiri Kerajaan Tarumanegara. Ia adalah tawanan perang yang berhasil lolos dari musuh dalam pelariannya. Dalam pelariannya, ia mencoba membangun sebuah kerajaan yang berada di tepi aliran sungai Citarum. Saat itu bangunan dibuat secara bertahap, hingga menghasilkan sebuah bangunan kerajaan yang begitu kokoh hingga mencapai masa kejayaannya.

2.Dharmayawarman (382 – 395 M)

Raja Dharmayawarman adalah raja kedua Tarumanegara yang mana menggantikan masa kekuasaan setelah Raja Jayasingawarman. Seorang raja yang terkenal akan sosoknya yang dermawan dan baik kepada para rakyat. Namun sayang tidak ada prasasti yang menyebutkan secara detail kepemimpinan Raja Gharmayawarman ini.

3.Purnawarman (395 – 434 M)

Raja Purnawarman adalah raja ketiga Kerajaan Tarumanega yang merupakan anak dari Raja Dharmayawarman. Pada masa kepemimpinannya kerajaan Taruma sempat mencapai puncak kejayaan pada masa itu. Saat itu peran serta sang raja cukup besar dalam memindahkan ibukota kerajaan ke Jayasingapura.

4.Wisnuwarman (434 – 455 M)

Setelah mencapai puncak kejayaan, Raja Purnawarman memilih untuk mengundurkan diri karena pada masa itu beliau sudah tua dan memilih untuk melakukan pertapa dalam menyempurnakan ilmunya. Tak lama setelah itu diangkatlah seorang Raja Wisnuwarman yang merupakan raja ke empat didalam sistem pemerintahan Kerajaan Tarumanegara.

5.Indrawarman (544 – 515 M)

Raja Indrawarman adalah raja kelima yang pernah memimpin Kerajaan Tarumanegara. Ia diangkat untuk menggantikan masa kekuasaan Raja Wisnuwarman yang pada masa itu telah habis masa pengabdiannya di Kerajaan Tarumanegara. Dia adalah sosok pemimpin yang berhati luhur dan ingin meneruskan kejayaan Tarumanegara seperti masa kepemimpinan Raja Purnawarman.

Setelah masa kepemimpinan Raja Indrawarman berakhir dengan penggantian tahta berikutnya. Maka berikut nama-nama penerus tahta setelah Raja Indrawarman lengser dalam sistem pemerintahan Kerajaan Tarumanegara.

6.Raja Candrawarman (515- 535 M)
7.Raja Suryawarman (535 – 561 M)
8.Raja Kertawarman (561 – 628 M)
9.Raja Sudhawarman (628 – 639 M)
10.Raja Hariwangsawarman (639 – 640 M)
11.Raja Nagajayawarman (640 – 666 M)
12.Raja Linggawarman (666 – 669 M)

Sistem Pemerintahan Kerjaan Tarumanegara Dibawah Kepemimpinan Raja Terakhir

Dalam catatan Naskah Wangsakerta, Linggawarman merupakan raja terakhir yang memerintah di Kerajaan Tarumanegara. Ia digantikan oleh menantunya bernama Tarusbawa yang berasal dari keturunan Kerajaan Sriwijaya. Tarusbawa memerintah Kerajaan Taruma dari 669 – 723 M, ia menjadi penguasa Kerajaan Tarumanegara yang ke  13.

Saat keadaan pamor Kerajaan Tarumanegara yang semakin menurun, pada saat itu Tarusbawa ingin mengembalikan keharuman nama kerajaan ini seperti masa pemerintahan Raja Purnawarman.

Dimana peran yang cukup besar dibawa pada masa pemerintahan Raja Purnawarman. Pada saat itu Raja Purnawarman mampu mendudukan kerajaan yang dari Ibukota Purasaba menjadi Sundapura.
Read more »
Beranda