BELAJAR MENJADI GURU YANG SOPAN DALAM MENEGUR SISWANYA

Menjatuhkan hukuman dan memberi teguran merupaka suatu seni yang cukup sulit. seorang pendidik yang berhasil memperbaiki anak didiknya, adalah seorang pendidik yang telah dapat menguasai dirinya sendiri. seorang pendidik harus tahu bagaimana menggocangkan tanpa memukul atau membangunkna tanpa merendahkan, ia harus mampu menimbulkan penghargaan dan bukan kebencin. dengan demikian berarti telah melahirkan anak didik yang sejati.

Georges dari bouhelier menulis tentang Barron Larrey, putera dokte Napoleon sebagai berikut. "ia bisa bertindak keras, tetapi ia tidak percaya bahwa hal tersebut akan berhasil tanpa disertai sikap sopan". lain halnya dengan Frranciscus dari Slaes yang mengatakan bahwa "ia bisa menolak dengan sangat sopan sehingga tolakan - tolakannya langsung dapat diterima seperti ijin - ijin yang diberikannya".
Guru muda bidang arsitektur

Apabila dalanm teguran, seorang pendidik berhasil merubah hati dan pikiran anak didik maka ia dapat di katakan sebagai seorang pendidik yang tak ada bandingnya.

Kita harus memperhatikan bagaimana cara membut suatu teguran. Eduard VIII menceritakan suatu anekdot tentang pengabdiannya di angkatan laut. Dikatakan bahwa ia harus berhenti dari tuganya atas perintah komandannya. Hal ini terjadi karena pangeran Wales secara skrupulus telah membuat suatu perhitungan terhadap pejabat tinggi ( setelah ia meneliti pekerjaan muridnya yang terkenal itu) yang rupanya tak dapat mengambil keputusan. 

Akhirnya beliau berkata " Sudihlah tuanku melepaska topi baretnya ?" setelah mentaati perintah tersebut, kadet muda itu menanyakan alasan dari perintah yang mendadak itu. Komandannya menjawab bahwa menurut perhitungan kapal kita telah masuk ke dalam Katedral Westminster.

Dari pada menolak kehendak yang baik atau menegur secara tajam dan tidak sopan, maka lebih baik berusaha menegur dengan cara yang simpatik da halus yang dapat membuat tertawa serta mendatangkan hasil yang baik. Tatkala Toscanini sedang memimpin latihan musik "Fidelium" karya Beethoven, ia harus mengulangi suatu bagian yang dilaksanakan kurang baik sampai empat kali. Oleh karena itu ia lalu berkata sambil tersenyum: "Tuan - tuan, saya mohon sudihlan menaruh perhatian. Beethoven yang termashur itu memang tuli, tetapi maafkanlah bahwa saya masih bisa mendengar!".

Ada beberapa pendidik yang kehilangan kepercayaan karena telah melancarkan teguran - teguran secara kontinyu dan pedis. hal ini sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh Doris Ines dalam "Don Govanni dari Bbyron" yang berbunyi " Di dalam setiap matanya terkandung suatu khotbah matiraga, dan pada setiap dahinya terkandung suatu khotbah hukuman!" beberapa pendidik rupanya mempunyai jarum dalam matanya, dan sangan senang mencari kekeliruan atau cacad dalam diri anak didiknya.

Untuk dapat mengambil sikap yang tepat, kita renungkan kata Theresia yang berbunyi : "Supaya teguran - teguran kita bisa berhasil diperlukan adanya suatu pengorbanan, dan hendaknya hal tersebut dijalankan tanpa adanya bayangan siksaan dalam hati.

0 Response to "BELAJAR MENJADI GURU YANG SOPAN DALAM MENEGUR SISWANYA"