SIKAP SADAR DIRI PADA GURU

Seorang pendidik hendaknya jangan melupakan bahwa ia Secara terus menerus diawasi oleh banyak mata yang mencari-cari kelemahannya. Dalam batas kemampuannya ia harus segera memihak pada sikap yang pasti dan benar. Untuk ini perlu ditingkatkan mutu pendidikannya. Di samping itu kita harus memperhatikan pula cacat Iahiriah yang menodai pribadi, martabat dan kedudukan yang dapat menimbulkan kebiasaan yang merugikan pada anak didik kita. Oleh karena itu kita harus dapat memberikan haI -hal yang baik dengan jalan menunjukkan cara-cara atau jalan-jalan yang pantas ditiru serta mengucapkan kata-kata yang bersifat mendidik.


Sebaiknya kita menghindari sikap-sikap tolol yang bisa menurunkan kewibawaan kita. Untuk ini seorang harus mempunyai perhatian terhadap segalanya. Pernyataan-pernyataan seperti: “Aku telah melihat semuanya” atau "Janganlah kau berbuat atas diriku” merupakan suatu tantangan bagi kaum muda, dan kalau mereka bereaksi maka menanglah mereka. Pada suatu waktu ada seorang ketua tata tertib berkata kepada anak didiknya dengan kejam: “Aku beri kesempatan selama lirna menit untuk taat”. Akibatnya anak didik yang berada di dalam kelas merasa senang dengan adanya sandiwara tersebut. Sang ketua tata tertib melihat anak didiknya dari detik ke detik lalu sesudah Iima menit ia berteriak gembira sambil pergi menuju pintu.

Kita dapat mengambil contoh-contoh cara untuk mengungkapkan diri yang tolol yang dapat menimbulkan turunnya kewibawaan. Ada seorang cendekiawan ulung yang mengajar matematika di sekolah St. Genoveffa. Pada suatu hari menginginkan suasana diam dan tenang kemudian ia keluar sambil berkata: "Aneh, justru aku buka mulut, justru ada seorang anak embisil yang berbicara!" Sedangkan Mac Mahon mahaguru obat-obatan di Paris mengatakan bahwa kita bisa mati karena penyakit tipus, atau kita bisa tetap hidup tetapi menjadi idiot. Sebab aku telah mengetahuinya, dan pernah mengalaminya. Seorang mahaguru yang lain pernah pula mengadakan suatu renungan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tololn sebagai berikut: 

- "Barangkali aku ini bodoh?" 

- “Aku tak percaya, jawab anak didik seorang pelawak,

- "tetapi aku juga bisa keliru, lho!"

Kita sebagai seorang pendidik sebaiknya mengusahakan resultat yang baik bagi misi kita. Apabila seorang diserahi tugas untuk mendidik kaum muda cukuplah kalau ia tidak menjadi munafik dalam mencapai kesempurnaan. Anak didik-anak didik itu cepat atau lambat akan mengetahui cacat-cacat kita dengan tujuan untuk membenarkan cacat-cacat mereka sendiri. Jadi lebih baik kita merenungkan apa yang telah dikatakan oleh Jaures, yaitu ”jangan|ah mengajar berdasarkan apa yang kita ketahui, tetapi mengajartah dengan apa adanya!” Oleh karena itu kita hendaknya selalu mawas diri apa bila kita mau menyadarkan anak didik kita.

Sudah banyak guru atau pendidik yang terjebak dengan kondisi dimana mereka sudah dianggap remeh oleh siswanya. karena dari awal pertemuan, guru tersebut tidak dapat memberikan sikap berwibawa pada siswanya. 

Dalam jenjang pertumbuhan siswa apalagi di masa sekolah tingkat menengah atas, puber akan menyebabkan siswa bisa saja menjadi kurang ajar kepada gurunya.

" Ah, guru ini kayaknya lemah, kok saya ribut tidak ditegur"
" Guru ini baik, namun tidak konyol"
" Guru baru ini, polos dan bisa di permainkan."

Kalimat - kalimat isi hati para siswa ini hanya sebagian dari semua unsur sifat yang ada pada manusia. coba renungkan lagi, pengaruh sadar diri bahwa sebagai guru kita harus mampu menjadi orang yang memiliki pengalaman panjang dan akan memberikannya kepada anak didik kita. maka dengan duduk manis siswa akan mendengarkan semua yang kita katakan dan akan patuh. berusahalah menyelingi pelajaran dengan menceritakan pengalaman berharga dalam hidup untuk dijadikan pelajaran pada siswa.

0 Response to "SIKAP SADAR DIRI PADA GURU"