Solusi Untuk Kelemahan Guru Dalam Mengajar

Solusi Untuk Kelemahan Guru Dalam Mengajar

Siapa yang tidak tahu Guru.  Ia adalah tokoh yang berperan besar dalam sebuah ruang lingkup belajar mengajar, memiliki peran penting dalam menentukan kualitas pendidikan anak bangsa. Telah dijelaskan olah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yaitu Anies Baswedan "bahwa wajah masa depan bangsa kita memang  berada pada ruang kelas". namun, itu bukanlah arti bahwa tanggung jawab akan membentuk masa depan hanya berada pada pundak pendidik dan tenaga kependidikan yang ada pada negara itu sendiri.  Maka dari itu kita harus menyadari bahwa kita semualah yang turut ikut berperan serta membantu para guru di seluruh Indonesia agar dapat menjalankan tugasnya dengan lebih maksimal.

Semua unsur bangsa yang ada pada suatu negara harus memiliki sikap peduli, untuk merasakam permasalahan pendidikan agar bisa menjadi bagian dari ikhtiar untuk mencari pemecahan masalah terhadap masalah yang kadang dijumpai oleh beberapa guru ketika ia harus mengajari murid-muridnya. Guru juga hanyalah manusia biasa yang tidak bisa luput dari kesalahan ketika berada di depan anak didiknya.

Nah untuk kali ini, saya akan menberikan beberapa kelemahan guru saat mengajar siswanya disekolah :

Solusi Untuk Kelemahan Guru Dalam Mengajar

  1. Guru jarang menggunakan cara mengajar yang menyenangkan. Solusinya kuasailah berbagai macam teknik dalam mengajar seperti : mengajarkan fakta di lingkungan terhadap apa yang di ajarkan, memberikan .
  2. Dalam mengajar guru kadang tidak mempersiapkan atau membuat sendiri perangkat mengajarnya yang biasa dikenal dengan sebutan RPP. Sebelum memulai mengajar sebaiknya seorang guru sudah mempersiapkan materi pengajarannya dan merupakan hasil ciptaannya sendiri, sehingg lebih mudah di mengerti ketika diterapkan kepada siswanya.
  3. Guru tidak membawa murid ke dunia nyata anak-anak. Hanya dengan menggunakan metode menjelaskan dan menjabarkan teori pada sebuha buku. Solusinya sering-seringlah membawa murid untuk  melihat langsung agar dapat merasakan objek mengajar yang sedang di ajar agar dapat merasakan kejadian-kejadian penting, hal-hal penting dalam kehidupan mereka. maka dari itu  mereka akan selalu belajar dari lingkungan yang ada di sekitar mereka.
  4. Kadang dalam mengajar disekolah guru tidak membawa alat maupun media mengajar di kelas. Solusinya mempersiapkan media yang berhubungan dengan materi mengajar, biasanya di anjurkan ketika awal tahun ajaran baru. Media bisa didapat dari bahan-bahan yang sudah bekas atau yang ada di sekitar lingkungan sekolah, atau bisa juga rumah murid.
  5. Guru Jarang menggabungkan proses belajar mengajar dengan pelajaran lain, apalagi yang masih menggunakan kurikulum lama. Solusinya adalah gunakan cara mengajar yang memakai keterpaduan dan asah kemampuan untuk menghubungkan pelajaran satu dengan yang lain. agar manfaatnya bisa menambah wawasan dan ilmu siswa secara lebih mendalam.
  6. Pendidik jarang untuk memperhatikan kemampuan dari muridnya. Solusinya Guru sebaiknya dapat mengelompokkan murid sesuai dengan kemampuannya masing-masing, misalnya seperti; posisi tempat duduk diatur sedemikian rupa agar murid nyaman. Pembagian kelompok kerja bagi murid, lebih mengarah kepada pengembangan potensi murid. Murid yang terampil duduk di sebelah murid yang pasif. Atau murid yang suka bercerita diletakkan di sebelah murid yang pendiam.
  7. Guru tidak melakukan evaluasi. Setiap proses selalu harus diberi evaluasi, agar guru dapat mengetahui sejauh mana murid mampu menyerap materi, nilai-nilai maupun norma-norma sehingga murid tidak hanya pandai tetapi juga berkarakter. Susun jadwal kapan evaluasi akan dilakukan, sehingga proses pencapaian murid dapat terukur dengan jelas.
  8. Guru biasanya jarang berkomunikasi kepada murid secara lebih dekat. Berkunjung ke beberapa rumah murid yang sedang membutuhkan perhatian apalagi kepada murid yang bermasalah di sekolah, mungkin perlu diterapkan sehingga terjalin komunikasi terbuka antara guru dengan muridnya, sehingga guru bisa mengetahui karakteristik murid dan muridpun mau lebih terbuka kepada gurunya itu.
  9. Dalam mengajar guru jarang memberikan beberapa unsur-unsur nilai, norma, etika kepada para murid. Solusinya cobalah menggunakan cara belajar  mengajar holistik, yaitu menerapkan mengajar secara menyeluruh maupun terpadu kepada anak didik dengan memasukkan unsur-unsur nilai spiritual dan emosional,sehingga anak tumbuh menjadi manusia yang memiliki keterampilan, terdidik dan memiliki karakter.
  10. Guru tidak menmbuat aturan yang jelas dalam proses mengajar. Sehingga suasana kelas menjadi kurang kondusif. Solusinya segera menentukan suatu aturan ketika  mengajar akan lebih dapat mengarahkan murid, agar murid ikut belajar untuk lebih disiplin, komitmen dan bertanggung jawab kepada proses pembelajaran di kelas.
  11. Penggunaan sarana dan prasarana yang kurang optimal. Misalnya meja, kursi yang berat diberikan, untuk digunakan kepada murid disekolah. Hal ini menyulitkan guru dalam menerapkan cara belajar yang lebih baik. Solusinya guru harus menjadi dalam kreatif menyiasati hal ini, membawa murid keluar ruang belajar sehingga murid tidak bosan ketika berada di dalam kelas.
  12. Guru kurang membaca buku dan referensi-referensi di luar ilmu didiknya. Menyusun jadwal untuk membaca berapa buku yang harus dibaca dalam beberapa hari, 1 minggu untuk menambah ilmu dan wawasan adalah cara yang tepat.
  13. Guru jarang melakukan riset dan menulis sebuah artikel atau jurnal lainnya. Solusinya guru harus lebih sering mengamati, menganalisa kejadian-kejadian di lingkungannya serta rajin mencari solusi dari setiap masalah yang ada & belajar untuk memecahkannya lalu di tuangkan ke dalam karya tulis ilmiah. siapa tahu bisa menjadi bahan inspirasi pada siswa.
Semua yang ada di atas semoga bisa menjadi pembelajaran bagi anda sebagai seorang guru. melihat kelemahan yang mungkin tidak di sadari ketika mengajar dengan solusi untuk menghadapinya. masih banyak permasalahan yang belum kita sadari, maka dari itu, seringlah bertanya atau membuka akal dan pikiran agar kita lebih hati - hati lagi. semoga apa yang telah diberikan diatas bisa menambah wawasan kalian. selama mencoba
Read more »
4 Kesalahan Guru Saat Mengajar Di Sekolah

4 Kesalahan Guru Saat Mengajar Di Sekolah

Mengajar siswa merupakan suatu tuntutan hidup seorang guru. kualitass dari seorang siswa bisa mengartikan kualitas dari gurunya sendiri. maka semakin baik siswa itu berarti semakin baik pula pendidiknya. dalam sekolah. dalam mengajar ada pula beberapa faktor yang biasa di abaikan oleh guru ketika mengajar siswanya. faktor ini akan membuat para siswa/siswi akan prustasi dalam belajar, atau merasa terkekang sampai terhina.

4 Kesalahan Guru Saat Mengajar Di Sekolah


Menegur Dengan Kasar

Sebagai manusia, ketika kita marah sangat wajar kita mengeluarkan suara yang keras yang berarti membentak. namun semua itu memang tidak ada baiknya di terapkan kepada anak didik apalagi di sekolah. anak didik yang sudah di bentak akan merasa tidak di sayangi sampai mereka nantinya akan merasa tidak di sukai jika keseringan di bentak oleh gurunya. ini akan menimbulkan kurangnya semangat belajar pada siswa. maka dari itu, sebisa mungkin kita sebagai guru tidak mengeluarkan suara-suara bentakan seperti itu. 

Acuh Tak Acuh 

Sifat acuh tak acuh disini maksunya. ketika kita memberikan materi kepada siswa di sekolah dengan metode yang tidak memikirikan apakah semua siswa sudah bisa menerimanya atau tidak. kita hanya fokus untuk menghabiskan materi yang ada namun tidak berpikir apakah siswa sudah meresapinya atau tidak. 

Banyak metode seperti ini yang sering di teapkan oleh guru, apalagi ketika sudah merasa lelah dalam mengajar. 

Apakah, kita sudah merasa puas. jika anak didik hanya mengetahui tema dari materi namun tidak mengetahui maksudnya. ujung ujung kitalah yang akan di nilai oleh khalayak mengapa anak didik kita tidak berprestasi.

Memanjakan Siswa


Sebagai pendidik, kita tidak boleh terlalu polos menghadapi siswa. yang sewajarnya saja. jangan terlalu merasa telah menyusahkan siswa jika memberinya tugas setiap hari. atau memberikan tugas yang banyak jumlah. pikirkan saja yang mungkin bisa di capai oleh kemampuan rata rata anak sekolah.

Semakin siswa terlatih untuk memecahkan masalah, maka semakin banyak pula pengalaman mereka dalam melatih otaknya. 

Tidak Mau Menerima Masukan

Jika anda adalah seorang guru yang ingin mencapai keberhasilan dalam dunia pendidikan. maka wajib untuk membuka pikiran untuk menerima masukan dari siapapun. karena yang menilai diri kita bukanlah kita sendiri, melainkan orang lain. 

Sudah banyak kejadian, dimana guru tidak mau di beri masukan oleh anak didiknya.karena sudah merasa berpengalaman dan lebih pintar. padahal ,semua manusia di dunia ini, tidak ada yang bsa mencapai kesempurnaan. akan ada saja kesalahan yang mungkin kita tidak sadari, melainkan orang lain yang menyadari kesalahan kita. 

dengan menerima masukan dari siswa, maka di jamin, metode pengajaran kita akan bertambah kualitasnya. yah ujungnya juga kan siswa yang merasakan cara mengajar anda. 


Read more »
Tidak Di Beri Uang Jajan Ke Sekolah

Tidak Di Beri Uang Jajan Ke Sekolah

Kali ini saya mau cerita kisah nyata tentang perjalanan seorang anak murid sekolah dasar. sebut saja dia Ical. Lingkungan yang bisa dibilang aman dan tentram menyelimuti kisah sehari-hari ical sang anak yang berumur 9 tahun dan masih duduk di kelas 4 SD. di besarkan oleh ke dua orang tuanya yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima, membuat ical terlatih untuk tidak berbelanja seperti anak murid lainnya.

Setiap hari ical menempuh 1 kilometer untuk sampai disekolahnya, dengan bekal seadanya tanpa uang jajan dari orang tua. kadang ical tidak membawa bekal karena orang tuanya sudah tidak sempat memasak untuknya. namun bagi ical itu tidak lah jadi masalah. yang penting saya kesekolah "kata ical".

Sekolah tempat ical mencari ilmu, bisa dikatakan standar nasional, dimana rata-rata muridnya adalah anak para pejabat dan jutawan. suasana yang harus dirasakan ical adalah, melihat teman-temannya yang diberi uang jajan ke sekolah untuk membeli makanan serta perlengkapan alat tulis yang memadai. antar jemput sekolah oleh orang tua juga tidak dirasakan ical. namun itu semua adalah bumbu hidup baginya. dengan pesan dari orang tua untuk pergi sekolah supaya bisa jadi Dokter menjadi semangat ical.

Rata-rata di Kota Anak kelas 4 SD masih dimanja oleh orang tua. dengan kata lain, di beri kesenangan dan tidak di biarkan merasakan artinya susah. namun pada ical ini tidak diterapkan sama sekali oleh orang tuanya. latihan fisik dan mental adalah makanan ical sehari-hari. kedisiplinan yang selalu terjaga akibat harus membantu orang tua jika sudah pulang sekolah. subuh-subuh sudah bangun beribadah bersama keluarga dan setelahnya menyiapkan barang dagangan orang tuanya.

Tak dirasa sikap orang dewasa tumbuh pada anak usia 4 tahun. dan dia masih tetap berdiri tegak. mengerti apa itu susah dan bagaimana menghadapi susah. dan mengetahui kebahagiaan itu seperti apa.

Pernah suatu saat, ical belum sarapan kesekolah. setelah beberapa saat disekolah, dia langsung merasa sangat kelapatan dan tidak tahu harus makan apa. namun dengan jiwa yang sudah terbiasa kerja keras, membuat ical harus melakukan sesuatu. maka ia pun pergi kekantin sekolah, dan meminta pekerjaan pada ibu kantin, untuk di jadikan bayaran terhadap apa yang ingin ia makan sebagai penghilang kelaparannya. 

Kadang kala ical menawarkan jasa untuk mengerjakan tugas temannya, lalu meminta sedikit upah untuk jajan. selain itu pekerjaan seperti menyalin sebuah cerita dsb - adalah peluang untuk ical mendapatkan jajan disekolah dari teman-temannya

Bukannya orang tua ical ingin melatihnya untuk tidak merasakan uang jajan, melainkan keadaan finansial yang tidak membebaskan mereka untuk memberikan jajan. dalam artian, anak-anak sd adalah anak yang masih dalam tahap perkembangan. yang di takutkan jika ical terbiasa untuk jajan, maka akan selalu ingin jajan. jadi orang tuanya harus membiasakan tidak jajan agar ical bisa tahu nikmatnya jajan ketika diberi saat-saat tertentu.

Kesimpulan :

Dengan cerita diatas. mengajarkan kita bahwa sikap pendidik yang mengajarkan anaknya tentang apa itu susah, lebih baik dari apa itu kesenangan. bukan dalam konteks, menyiksa. tapi disini kita berbicara tentang tidak memanjakan anak untuk berbelanja. ini akan mengajarkan mereka apa itu artinya kenikmatan jika, sebelumnya ada jarak untuk menempuh kenikmatan itu. bukan tidak memberi jarak, sehingga apa permintaan anak selalu di turuti. ini malah membuat watak anak bisa jadi tidak baik di masa depannya.
Read more »
Capeknya Mengajar Matematika di Jam Terakhir

Capeknya Mengajar Matematika di Jam Terakhir

Nama saya Agus adalah saya seorang guru matematika di sekolah tingkat SMA. sebagai guru yang masih baru, yah sekitar 4 bulan. terasa sekali capeknya kalau sudah sampai dirumah. "waktu disekolah sih tidak terasa, pas sampai dirumah, semua badan terasa pegal" . tapi saya senang, karena sekarang sudah bisa merasakan menjadi orang yang tiap hari kerjaya mendidik generasi muda.

Sekolah tempat saya mengajar bisa dibilang salah satu SMA terbaik di kota. jadi jangan salah, kualitas harus benar benar di utamakan dalam belajar dan mengajar. susahnya mengajar matematika terletak ketika mengajarkan anak murid pada jam terakhir. semuanya pada ngantuk, saya kira mereka sudah mengerti apa yang saya jelaskan, ternyata tidak. banyak murid yang berkaca-kaca matanya, seperti habis nonton sinetron, padahal itu merupakan gejala ngantuk.

Dalam situasi seperti ini, saya selalu melakukan sesuatu yang bisa membuat mereka segar kembali. salah satunya dengan menyisihkan waktu 15 menit. untuk merenggangkan otot-otot. agar aliran darah normal kembali. " ayo...berdiri semua, saya lihat kalian semua loyo sekali, pada ngantuk kayaknya. sekarang berdiri dan ikuti gerakan bapa, kalau ada yang tidak mau, siap diberi hukuman". disini yang dilakukan sangatlah mudah, dimulai dari kepala, di goyang kiri kanan dengan hitungan 1 - 8. sama seperti stretching sebelum bermain bola, ataupun latihan silat. bedanya, gunakan gerakan yang tidak membuat keringat. seperti gerakan di kepala, pergelangan tangan, mencium lutut, pergelangan kaki. setelah itu. barulah bisa duduk kembali, Insya Allah, pasti badan bisa segar. apa lagi, saya suruh semua pergi mencuci muka secara bergiliran.

Dengan itu semua. saya harapkan ada pengembalian. istilahnya, dari pada saya berlama-lama menjelaskan tapi tidak dimengerti, maka ini akan membuang waktu saja. mending sisahkan 15 menit, lalu melanjutkan lagi dengan penuh semangat.

Cara lain saya ketika melihat suasana ruangan yang sudah tidak hidup ialah dengan cara membuat suatu kelucuan atau humor, namun masih berhubungan dengan matematika. disini saya memanfaatkan waktu ketika selesai menjelaskan, menunjuk satu siswa yang sudah terlihat mengantuk untuk maju kedepan, kemudian menyuruhnya membuat cerita yang ada perhitungan didalamnya. nanti siswa lain yang akan menjawab pertanyaan. 

Mengapa harus menyuruh siswa maju ? menurut saya, ketika ada siswa yang maju didepan kelas, maka siswa lain pasti akan fokus melihat apa yang akan terjadi, bagi siswa yang penakut, pasti akan was-was. nah semua itu, secara tidak langsung akan membuang rasa kantuk pada siswa. apa lagi ada hal lucu yang terjadi di depan kelas.

Beginilah cerita saya ketika sedang mengajar disekolah. saya harus bangkitkan terlebih dahulu semangat siswa, agar hasil dari pemberian materi pelajaran bisa masuk dan dimengerti semaksimal mungkin. bukan membuang waktu sia-sia. semoga bisa mengispirasi kalian.
Read more »
Menjaga Reputasi (prestige) Pendidik

Menjaga Reputasi (prestige) Pendidik



Prestige merupakan suatu pertoiongan yang kuat untuk tegaknya otoritas dan kewibawaan. Oleh karena itu kita tidak memandangnya sebagai sarana untuk memuaskan keinginan pribadi, melainkan untuk meneguhkan respek, dan keberhasilan kerja. Kita mempunyai hak untuk menolak ucapan terima kasih, tetapi kita tidak mempunyai hak untuk menolak respek.

Kadang-kadang suatu prestige itu ditentukan oleh cara berpakaian kita. Mussolini pada tahun 1963 berpendapat bahwa pribadi seorang pemimpin seeara lahiriah harus sudah mengesankan. Setelah itu para hakim, advokat, tentara menjatuhkan keputusan dan perintah dengan scrupulus. Hal ini sudah merupakan suatu keharusan, apabila menolaknya berarti mereka akan menghadapi nasib yang suram. Oleh karena itu kita perlu mempunyai semangat keberanian supaya dapat bersikap tegas.

Ketegasan itu perlu karena anak didik yang masih murni itu memerlukan arah yang jelas, nyata, dan tepat. Banyak ketidak taatan berasal dari penyusunan tata tertib yang tidak baik. Selain itu pengertian tentang isi tata tertib tersebut kadang-kadang kabur, atau tidak jelas maksudnya. Akibatnya anak didik hanya mempunyai pengertian yang setengah-setengah, dan sering mencampuradukkan pengertian-pengertian tersebut. Banyak prinsip direktif dijalankan, tetapi selalu gagal untuk mencapai sasaran. Hal ini dapat terjadi karena para pendidik tidak menguraikannya dengan tepat, juga banyak kekurangan yang telah mereka tanamkan ke dalam jiwa-anak didik yang akhirnya menyebabkan anak didik menjadi cacad. ini semua tentu saja disebabkan oleh para pendidik atau orang tua yang tidak cukup mengungkapkan bahaya-bahaya yang akan ditimbulkannya.

Beranilah untuk melihat kenyataan! Beberapa pendidik ada yang merasa takut untuk menghadapi kesulitan-kesulitan yang ditimbulkannya, yang jelas mereka tidak suka menghadapi bermacam-macam persoalan.

Ada orang yang mengatakan sebagai berikut: "Tugasku telah membuka kedua mataku, tetapi interesku telah menutup kedua mata itu.” Berapa saja pendidik yang bersikap kecil hati, yang mengakibatkan suatu kerugian. Kita seharusnya mempunyai semangat keberanian untuk melihat sesuatu persoalan dari bermacam-macam aspek beserta dengan segala k0nsekuensinya, dan mempertimbangkan terlebih dahulu segala-reaksi yang mungkin dapat timbul.

Pendidik kerap kali kurang berani untuk memberikan perintah. Sebagai gantinya mereka lebih suka untuk memberikan saran, mencari kompromi, atau menghindarkan diri dari tugas tersebut. Perbuatan ini seperti seorang pengemis yang meminta-minta agar perintahnya ditaati, dan dijalankan, dan yang disertai pula dengan bermacam-macam janji atau hadiah sebagai balas jasanya. Kita perlu mengerti bahwa anak didik seorang imam atau mahaguru suatu universitas perlu mempunyai seragam khusus pada kesempatan-kesempatan resmi. Selain itu para pendidik periu memperhatikan juga adanya suatu tanda distinctif demi prestige-nya. Perlu diingat pula bahwa kaum muda sangat peka terhadap rangsangan dalam bentuk seragam khusus. Appearance itu tidak selalu menunjukkan keaslian pribadi yang sebenarnya, tetapi justru menunjukkan adanya perbedaan guna menunjukkan siapa dia.

Suatu prestige tergantung pula pada kualitas fisik seseorang. Orang yang mempunyai kekuasaan harus memperhatikan beberapa hal yang tidak boleh dilupakan dan dilanggarnya, seperti: cara mengambil sikap, cara berjalan, cara melihat, nada suara, kelancaran dalam berbicara, seri wajah, cara menilai, cara menghilangkan kebiasaan yang tidak baik, dan sebagainya.

Yang benar-benar disebut prestige adalah yang berasal dari kualitas moril. Tergantung dari pendidik itu sendiri dalam usahanya untuk memberikan kesan kepada anak didik tentang kedudukan yang luhur dari fungsinya. Perlu kita ingat bahwa prestige itu ada karena adanya ilmu dan kebudayaan. Oleh karena itu kita jangan takut untuk menunjukkannya. Kita tidak perlu menonjolkannya, tetapi kita perlu membiarkannya supaya dilihat oleh yang lain. Montaigne mengatakan bahwa “sedikit itu dari semuanya, dan banyak itu dari sesuatu.”

Prestige itu sebagian besar juga ditentukan oieh energi kehendak kita. Ketika Bonaparte ditunjuk untuk menjadi komandan suatu armada dari ltalia, para jendral tidak menyembunyikan ketidak puasannya.

Augereau berkata sebagai berikut: "Sekarang, lihatlah! Wajahnya akan menentangmu!” Pada saat itu Bonaparte menampilkan diri dalam seragam kebesaran, dan memberikan perintah-perintah tanpa syak atau emosi sedikit pun. Tarnyata tak seorang komandan senior pun dari pasukan itu yang berani untuk mangucapkan sepatah kata, kemudian Augereau tampil untuk mengakukan; diri: ”Percayakah kamu bahwa orang yang kecil itu telah membuatku takut!"

Perlu diketahui bahwa prestige itu ditentukan pula oleh pengertian kita tentang respek yang telah kita nyatakan. Oleh karena itu kita harus melakukan semua tugas demi manyelamatkan hak-hak otoritas kita. Dengan demikian berarti kita juga akan menyelamatkan diri kita sendiri.

Oleh karena itu kita harus mempunyai respek terhadap teman sekerja dan anak didik kita dengan tujuan untuk menimbulkan masa depan yang gemilang pada diri mereka. Mengerti akan kedudukan anak kecil yang kelihatan lemah itu merupakan suatu tanda keluhuran pribadi.

Akhirnya kita harus dapat pula memberikan respek pada diri kita sendiri. Perlu kita ingat bahwa marah-marah berarti merendahkan, dan mengasingkan diri kita sendiri.

Jadi dapat kita simpulkan bahwa prestige itu ditentukan oleh adanya kompetensi profesional, adanya pengertian kita tentang keadilan, cara kita dalam membedakan tata cara, simpati yang gemilang; dedikasi kita yang tak kenal lelah, dan nilai konduite kita. Ini semua tentu saja tergantung dari diri kita sendiri. Anak didik pasti mengenal cacad kita. Mereka bersedia memaafkannya apabila mereka tahu bahwa kita telah berusaha dengan jujur untuk memberantasnya, dan telah mengabdikan diri sepenuhnya pada tugas atau kewajiban kita.
Read more »
Guru Membutuhkan Penyegaran Diri

Guru Membutuhkan Penyegaran Diri



Usaha yang seksama di dalam menyusun persiapan untuk mendidik harus disertai pula dengan kesibukan yang tak kenal lelah di dalam rangka untuk memperbaharui, dan untuk meremajakan diri. Hal ini harus kita lakukan karena di dalam tugas "mendidik itu kita harus meninggalkan stempel yang mendalam pada pribadinya.

Merupakan suatu Bahaya di dalam pendidikan apabila kita mencari mudahnya saja, seperti dengan selalu memberikan tugas atau sanki-sanksi yang sama kepada anak didik. Hal ini tentu saja akan berakhir dengan pemilikan sikap yang kaku dan uniform dari si pendidik. la bukan lagi seorang penjiwa di dalam pendidikan karena ia justru membuat jiwa itu meniadi seperti robot. hukuman yang itu itu saja jika sering dihadapi siswa, tentunya nanti akan terasa mudah. dan bagi mereka itu merupakan bukan tantangan lagi. maka dari itu, tugas maupun sanksi yang diberikan haruslah butuh penyegaran. agar sanksi yang diberikan dimaksudkan juga untuk melatih siswa kita.

Dengan demikian kita mengerti bahwa seorang pendidik itu harus selalu memperbaharui diri, dan menyegarkan metodeametode yang digunakannya. Untuk ini kita perlu memanfaatkan hari-hari libur dengan sebaik-baiknya. Seorang pendidik yang mengerti tanggungjawab, selama liburan tentu menaruh perhatian dan memanfaatkan buku-buku bacaan, majalah-majalah, pertemuan-pertemuan, up gradings, dan sebagainya. lni semua tidak lain bertujuan supaya dapat berkomunikasi secara luas, juga untuk memperkaya diri dengan ilmu, serta untuk melatih dan menyegarkan diri. Dengan mangkonfrontasikan antara observasi-observasi dalam metodenya sendiri dengan observasi orang Iain maka kita akan mencapai hasil yang labih gemilang di dalam karya kita.

Kita harus mengabdikan diri secara teratur dalam arti kita bukan mengabdi pada kesibukan-kesibukan yang kita senangi saja, melainkan juga pada hal-hal yang dapat meiengkapi masalah sosial budaya, hal-hal yang dapat menyempurnakan metode, serta hal-hal yang dapat mengembangkan kapasitas, dan sebagainya. Pada dasarnya kita memang tidak senang pada kesibukan-kesibukan semacam itu, karena kita menganggap tidak ada gunanya, atau merasakannya sebagai sesuatu yang membosankan.

Apabila kita mau menjadi pendidik yang baik, kita harus merenungkan hal-hal yang bersifat rohani, dan menyebarkan pandangan tersebut pada zona yang belum pernah kita selidiki. Jika kita mempunyai tekad untuk menarcbos zone yang murni ini, sangat besar kemungkinannya kita akan menemukan sesuatu yang berharga baik untuk kita sendiri maupun untuk anak didik kita.

Di samping bekeria, kita hendaknya mempunyai waktu istirahat guna melepaskan diri sesaat dari kesibukan-kesibukan. Dengan demikian kita akan dapat menyegarkan otak dan jiwa yang lelah, menguatkan kembali kehendak yang melemah, memperbaharui ilmu yang telah usang, dan menemukan bentuk-bentuk baru dalam bidang pengajaran.

Kita perlu mengadakan kontak dengan jaman tempat kita hidup, juga kontak dengan aspirasi-aspirasi muda. Di samping itu kita harus mengenal dengan baik lingkungan keria kita. Supaya dapat mencapai tuiuan tersebut, kita parlu membaca berita-berita yang terdapat di dalam surat kabar-surat kabar. ketika ada berita yang heboh namun tanpa disadari kita belum mengetahuinya karena tidak mau membaca surat kabar atau menonton berita, efek yang di timbulkan mungkin hanya merasa ketinggalan gosip belaka. namun jika kita bisa mengambil hikmah dari itu yang berhubungan dengan cara belajar dan mengajar, maka ini mungkin bisa meningkatkan teknik mengajar kita. contohnya berita inovasi guru, inspirasi guru dan masih banyak lagi.

Kita perlu meninggalkan metode-metode yang biasa kita gunakan untuk menyesuaikan dengan yang baru. Hal ini tidak lain bertujuan untuk penyegaran kembali.jangan hanya terpaku pada metode yang itu - itu saja. bertujuan agar, suasana baru terus tercipta, dan rasa bosan anak didik juga tidak datang.

Selama liburan kita harus berusaha pula untuk menyegarkan, dan meng-up to date-kan akal budi kita supaya kita selalu mempunyai energi mental yang baru dalam membina anak didik. Seperti halnya kita menguatkan kembali tenaga-tenaga jasmani kita, demikian pula dengan nilai profesional dalam bidang pendidikan harus kita perbaharui. olah raga secara teratur. contohnya yoga, dapat me refresh otak kita. dimana rasa stress akan tanggung jawab yang besar setiap harinya harus segera di bersihkan. masa lalu yang buruk harus selalu di hapuskan dari ingatan.

Listz pernah mengatakan: “Apabila aku tidak membunyikan piano selama delapan hari, aku akan merasakannya; dan apabila aku tidak membunyikannya selama lima belas hari, orang lain akan merasakannya juga.” Olen karena itu anak didik hendaknya dapat merasakan bahwa kita selalu memanfaatkan hari libur, dan kesempatan-kesempatan yang ada dengan membaca buku bacaan-buku bacaan, menghadiri pertemuan-pertemuan, dan sebagainya. Hal ini bertuiuan untuk memperkaya, dan menyegarkan diri kita. Semua ini kita lakukan tidak lain demi kepentingan, dan masa depan anak didik. Di dalam Ecole Massilon ada‘ suatu motto yang berbunyi: ”Mengetahui dengan lebih baik supaya dapat mengabdi dengan lebih baik.” Kata-kata ini sangat cocok sebagai bekal supaya dapat meniadi orang pendidik yang baik. 
Read more »
Persiapan Inti Menjadi Guru

Persiapan Inti Menjadi Guru



Seorang pendidik harus mempersiapkan dengan teliti pekerjaan yang akan dijalankannya kalau ia mamang banar-benar mau barkecimpung dalam bidang pengajaran, salah satunya menjadi seorang guru disekolah. Persiapan semacam itu dilakukan dalam -tiga tahap, yaitu:

Persiapan Jangka Panjang

.Persiapan untuk jangka panjang pada umumnya terletak dalam bidang sosial budaya, dan di dalam hal ini seorang pendidik betul-betul dituntut untuk manguasai materinya. Seorang pendidik yang banar-benar baik harus mamiliki pengetahuan yang all round, bila tidak prestige (kepopuleran) dan pangaruhnya akan manurun, dan pengajarannya pun menjadi dangkal dan miskin. Pada umumnya bidang sosial budaya membuka prospektif yang luas bagi barmacam-macam panggilan hidup.
Seorang pendidik yang benar-benar baik harus dapat manarik manfaat dari apa yang dibacanya, didengarnya, dan di lihatnya guna memperluas serta memperdalam pengetahuannya. Elizabeth Lesseur mangatakan bahwa ”suatu jiwa yang terbina, akan mampu mambina dunia. 
Seorang dosen Arsitektur Universitas Haluoleo, Kendari, La Ode Abdul Syukur - pernah mengatakan kepada saya , jika kau ingin menjadi seorang arsitek, maka gunakanlah matamu untuk memandang sekitarmu hingga mendapatkan ide. ini menjelaskan pada kita, bahwa ilmu yang akan selalu ada dikeseharian kita adalah apa yang bisa kita rasakan di sekeliling kita setiap harinya.

Persiapan Jangka Pendek 

Persiapan jangka pendak menuntut si pendidik untuk berpegang dangan sebaik-baiknya pada aliran-aliran yang up to date menurut kompetensinya masing-masing. Hal ini dapat dilakukan malalui bacaan-bacaan yang tarbaik yang berisi tantang 'suatu argumentasi, atau kejadian-keiadian yang mandapat perhatiannya, atau pun melalui metode-matode yang baru, dan sebagainya. Kita jangan bartindak saparti orang yang karas kapala, yang menolak untuk manarima dokuman-dokumen yang baru. Kita satiap tahun justru harus salalu memodarnisir contoh-contoh yang handak kita berikan pada anak didik. Ada seorang maha guru yang membakar berkas-berkasnya setiap tahun dangan tuiuan untuk menguku hkan niatnya manjadi orang yang selalu up to data. Kita tidak perlu demikian, yang panting kita selalu berjiwa up to date.

Persiapan Langsung 

Akhirnya kita setiap kali harus mangadakan persiapan langsung apabila akan memulai suatu pekerjaan, dan hal ini berlaku bagi semua usia. Disamping itu kita jangan percaya pada hal-hal yang bersifat kebetulan. Jadi, kita harus menyediakan waktu yang cukup supaya dapat manyajikan sesuatu dengan baik, dan yang bisa dipertanggungjawabkan. 

Persiapan-persiapan itu merupakan bagian inti dalam hidup kita, sebab tanpa hal itu perbuatan kita seperti sebuah pohon tanpa akar.

Berapa banyak pendidik yang baru memulai tugasnya sudah merasa payah. Hal ini terjadi karena mereka Ialai mempersiapkan program kerja tahunan, harian atau pun jadwal pengajaran. 

Suatu pelajaran yang tidak dipersiapkan terlebih dahulu tidak akan menimbulkan interes dalam diri anak didik, dan hasil yang dicapai pun tidak akan baik. Presiden Th. Roosevelt mengatakan bahwa ”sukses itu ditimbulkan oleh inspirasi 10% dan transpirasi 90%.

Kita tidak boleh percaya pada "lampu penarangan genius” kita. Newton mengatakan bahwa ia dapat manemukan hukum-hukum graviditas dengan jalan'”seIalu menimbang dan memikir”. Napoleon berkata kepada Roederer: ”Aku bekerja tanpa istirahat  ”Aku selalu siap untuk memberi jawaban kepadamu mengenai semua hal, dan selalu siap untuk menghadapi semua kejadian. Semua ini dapat kulakukan karena sebelum aku siap untuk menangani suatu kejadian, aku telah merenungkannya, dan melihat jauh  kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi. Bahkan suatu kegeniusan pula yang mewahyukan improvisasi padaku, dan  Seorang pendidik yang tidak mempersiapkan terlebih da_hulu bahan pekerjaannya berarti ia telah melakukan suatu keteledoran, dan kita dapat berkata kepadanya: ”Stempelilah anak-4 didikmu dengan suatu tanda yang kosong.”
 

Read more »