Guru Harus Tahu Membeda-bedakan

Sebagai seorang pendidik kita sebaiknya dapat membeda-bedakan dalam memenuhi tuntutan-tuntutan kita. Dalam beberapa hal kita harus bertindak tegas, seperti dalam bertingkah laku, menyajikan tugas, dan dalam menyusun ortografi. Pada garis besarnya kita harus bisa bersikap rnenerima dan mengerti. Logislah apabila seorang anak itu tidak dapat menjawab seperti seorang yang berusia lebih tua, misalnya seorang anak didik pada bulan Oktober tidak akan dapat menggambar seperti apa yang telah dikerjakan oleh anak didik pada bulan Juni tahun yang lalu. Jadi, jelaslah bahwa tidak semua anak itu mempunyai kemampuan yang sama. 

Tahu mernbeda-bedakan daiam mengendalikan kekuasaan, itulah satu tuntutan daiarn tugas kita. Kita tidak boleh cenderung pada deformasi profesional, sepefti halnya kebiasaan untuk bersikap lebih tinggi dari anak didik yang lemah. Tentu saja hal ini akan membuat kita kerap bertindak seperti penguasa yang sewenang-wenang. P.Valery mengatakan bahwa “kekuasaan itu akan rnenarik perhatian orang, sejauhia dapat disalahgunakan.” Hal tersebut tidak dapat dibenarkan terjadi pada diri kita, dan di lapangan pekeriaan kita. Apabiia hal itu teriadi maka akan menjadi seperti mosaic yang campur baur terhambur pada suatu tempat yang datar.
Gambaran siswa yang sedang belajar

Demikian pula kita harus dapat mernbeda-bedakan dalam memberikan tugas-tugas. Kita jangan memberikan tugas kepada anak didik pada kesempatan yang tidak baik, atau mernberikan tugas secara kontinyu hanya demi kesenangan pribadi. Selain itu kita jangan menegur anak didik setiap dua atau tiga menit, atau pun memberikan perintah-perintah disertai dengan sanksi huku man yang berat. Montaigne berkata sebagai berikut: “Anak didik itu mempunyai kapasitas perhatian yang kecil, oleh karena itu iangan setiap kali diisi terlaiu banyak.“

Kita hendaknya tahu membeda-bedakan dalam memberikan pertanyaan-pertanyaan. Tindakan-tindakan kita kadang-kadang meiumpuhkan anak didik, memekanisirnya, memnbuatnya seperti robot, serta mencekiknya. Hal ini kita lakukan dengan dalih untuk mernbebaskannya dari rintangan-rintangan, sehingga kita dapat menuntutnya untuk mengatakan kesulitan-kesulitannya. Hal tersebut akan mengingatkan kita pada nasib seekor kelabang yang hidup di tepi jalan. Pada suatu hari seekor katak yang jeiek menanyainya. “Bagaimana mungkin engkau dapat bergerak dengan seribu kaki?!” "Selam itu engkau bergerak dengan perintah kaki yang mana?" Si kelabang tak pernah memikirkan apa jawabannya menjadi bingung. la tidak tahu dengan kaki yang mana ia harus mulai bergerak sehingga ia tidak tahu apa yang harus chkatakannya. Akhirnya ia tidak berhasil untuk menyelamatkan dirinya, dan tetaplah ia tinggal terlantar.

Sebagai seorang pendidik kita.pun harus tahu membeda-bedakan dalam memberikan teguran-teguran. Kira jangan saling melancarkan teguran apabila kita ingin mencapai tujuan. Sebaiknya teguran disingkat, tidak paniang lebar, dan tidak sacara terus menerus, serta mengandung arti yang dalam. Sejauh mungkin kita jangan menggunakan nada ofensif dan keras. Ada suatu seni tersendiri untuk memperbaiki dan menghukum anak didik dengan tahu batas dan tahu membeda-bedakan, baik dalam pengetrapannya maupun dalam nada dan istilah-istilah yang digunakannya. Umpamanya apabila kita memberikan teguran terhadap seseorang yang tulisannya jelek, dengan kata-kata sebagai berikut: “Alangkah baik tulisanmu! Tetapi andai kata bisa dibaca, akan menjadi lebih sempurna!“.

Sebaiknya kita tahu membeda-bedakan pula dalam mengawasi anak didik. Apabila kita selalu bersikap tepat pada waktunya maka mereka akan memperbaiki diri untuk menjadi lebih tertib.

Kita pun dituntut pula untuk tahu membeda-bedakan anak didik. Mereka tidak akan memperbaiki diri dengan sungguh-sungguh apabila mereka dapat menerka kita sedang membicarakan kejelekan-kejelekan atau sedang mentertawakan mereka. Sedapat mungkin kita jangan sampai membicarakan hal-hal yang kurang disukai anak mengenai keluarga mereka. Terhadap mereka sendiri kita jangan pula melancarkan kata-kata yang menghina. Apabila mereka membicarakan kata-kata yang menghina. Apabila mereka membicarakan hal-hal yang bersifat rahasia maka kita hendaknya dapat menjaga diri dan tidak menyebarluaskan hal tersebut, meskipun hal tersebut tidak mengandung arti yang panting bagi kita. Seperti halnya dengan orang-orang kuno, sebaiknya kita selalu menghormati "dewa rahasia mulut”. Mengenai kesalahan-kesalahan yang telah larnpau, kitajangan menggemakannya pada suatu kesempatan yang baru karena dengan demikian kita seola-olah membelenggu mereka seperti seorang penjahat yang tidak mungkin rmendapat kesempatan untuk bertobat.

Tidak lupa pula kita harus tahu membeda-bedakan dalam hal pengusutan. Ada bagian-bagian yang tarlarang, dan ada puia soal-soal susila yang harus juga rnendapatkan perhatian. Kekuasaan itu tidaklahltanpa batas. Reputasi tidak akan membawa hasil apabila kita memberitahukan bahwa kita dihinggapi gangguan batin di dalam hal kemurnian jiwa. Keutamaan anak didik berada dalam bahaya apabila mereka berpendapat bahwa gangguan-gangguan batin dalam masalah kedewasaan tidak mungkin dapat diatasi.

Selain itu kita harus dapat rnermbeda-bedakan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh pendidik-pendidik yang lain. Kita tidak rnau mengatakan bahwa setiap pendidik dianjurkan untuk mempunyai taktik sendiri-sendiri pada sektornya masing-masing. Tanpa ragu-ragu dapat dikatakan bahwa setiap orang mempunyai catatan khusus pada papan caturnya yang besar di sekolah, tetapi kenyataannya kita juga bermain bersarna dalam bentuk tim. Oleh karena itu kita harus dapat bekerja sama secara kekeluargaan. Kemampuan dalam membeda-bedakan itu akan merupakan suatu catatan untuk manghindari pertantangan-pertentangan, yaitu dengan jalan saling terbuka tarhadap satu dangan yang lainnya. Kita sadapat mungkin safing bekerja sama, yaitu dangan jalan saling bertukar informasi dari hati ke hati di antara taman-ternan sekerja. Hai tersebut diperlukan supaya kita dapat mengambil undakan sendwi yang labih tepat di dalam menghadapi parsoalan dari teman-teman.

Akhirnya kita harus tahu membada-bedakan terhadap diri sendiri. Kita jangan saring membicarakan tentang diri sendiri dihadapan anak didik, manyalahkan taman sakerja dihadapan anak didik, atau pun rnenuniukkan sikap gelisah hampir menangis dihadapan anak didik. Salain itu kita jangan menghitung sukses-sukses yang telah kita capai atau pengalaman-pengalaman masa lampau. Apabila hal itu terjadi, kita akan kehilangan perhatian dari anak didik. Kita hendaknya manghargai kepribadian anak didik. Montaigne pernah mengatakan bahwa “kita harus manuntun anak didik menuju kesejahteraan masa depannya sendiri-sendiri dengan melalui jalan yang barbeda-beda.” Semua bentuk tindakan yang tidak tahu membeda-bedakan itu sangat tidak edukatif, dan melumpu hkan anak didik serta memekanisirnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidik tidak memberi tempat terhadap inisiatif anak didik serta tidak membimbingnya. Dengan sikap tahu membeda-bedakan, kita akan mernberikan tanda penghargaan terhadap pribadi manusiawi kaurn muda, dan memberikan suatu bukti akan adanya usaha yang benar terhadap masa depannya yang berharga.

Contoh sikap membeda-bedakan yang sering terjadi disekolahan. Seorang guru merasa ada beberapa siswa dengan nilai terendah sekaligus siswa ternakal dikelas. maka cara menegur mereka menjadi beda, kadang guru menegurnya dengan nada yang lebih kasar. atau dalam konsultasi antara keduanya siswa yang nakal ini kurang diberikan senyuman sampai pemahaman. kejadian seperti ini, malah akan menambah kesukaran bagi siswa untuk berubah. tidak adanya suguhan yang baik bagi mereka menjadikan gangguan terhadap proses pengembangan diri siswa.

Jangan heran, setelah siswa menemukan teman pergaulannya yang sesamanya. maka perubahan diri susah untuk dimasuki. maka dari itu, gunakanlah sikap untuk tidak membeda-bedakan pada semua murid. guru sebaiknya bersabar jika ada keluhan dalam hati. simpanlah baik - baik sebagai bahan pengalamanmu.

0 Response to "Guru Harus Tahu Membeda-bedakan"