Guru Harus Berjiwa Realistis

Mengapa banyak pengajaran suasananya tidak hidup, dan mengapa pula banyak ceramah dan bacaan membosankan? Hal ini tarjadi karena adanya ketidak cocokan dangan kenyataan, kekaburan, penekanan yang berlebihan pada perbenciaharaan kata di dalam memberikan panjelasannya, ketidak-tepatan, dan apa yang diuraikannya kurang mengenai sasaran. Padahal justru inilah yang menciptakan realisme pengajaran, dan yang menimbulkan interes, serta melahirkan kaputusan yang praktis dalam diri kaum muda. Untuk mencapai tujuan tersebut kita harus menyesuaikan diri dengan realitas. M. Bouchet telah menulis thesis yang menarik tentang “individualisasi pengajaran”, yang di dalamnya ia menentang pendapat tantang “inabstracto” anak didik. Pendapat tersabut mengatakan bahwa ”seorang anak didik itu tidak ada, yang ada hanyalah dalam bentuk jamak yaitu "anak-anak." Oleh sebab itu kita harus mamparbanyak penjelasan, persamaan, soal, dan pertanyaan supaya dapat bergunau untuk samuanya, serta dapat dimengerti dangan mudah. Apabila kita mau memperhatikan dengan sungguh-sungguh, kita akan mangetehui dengan cepat kemajuan dan kemunduran di dalam mendidik dan membimbing anak didik.
Gambaran kesendirian jika kita selalu memandang satu hal

Perlu diketahui bahwa sistem mendidik dan mengajar itu tidak dapat distandardkan. Di dalam pedagogi tidak ada sistem toko dangan harga barang yang sama, yang ada ialah macam-macam sifat anak didik dalam satu wadah, sarta anak didik-anak didik dari satu keiuarga yang sama atau dari kalas yang berbeda yang berada dalam satu sekolah. Jadi mendidik itu tidak seperti pekerjaan mengisi suatu bejana, melainkan seperti pekerjaan mencari serta menyesuaikan dosis terhadap diri anak didik. Oieh karna itu apabila kita ingifl mempunyai pengaruh yang baik dan berhasil daiam membina kaum muda, kita harus mempunyai pangartian yang baik tarhadap pribadi dan latar belakalng tiap-tiap individu.

Disamping itu kita harus memupuk sikap dan pengertian yang tepat. Sabenarnya anak didik-anak didik itu haus akan sesuatu yang khusus. Mungkin apa yang telah kita ajarkan banyak yang akan dilupakan, tetapi pengertian umum akan tetap berakar pada diri anak didik. Oleh karena itu kita jangan barlayar menuju kepada sesuatu yang kabur, baik dalam pengertian-pengartian yang terkandung di dalam bidang kultural maupun dalam petunjuk-petunjuk yang bersifat formatif.

Di dalam memberikan data-data, kita harus bertindak tepat, umpamanya : Filip ke ll lahir bukan pada akhir abad ke XVI, melainkan pada tahun 1598; Victor Hugo tidak lahir pada awal abad ke XIX, melainkan ia lahir pada XIX, melainkan …….begitu seterusnya.

Selain itu kita harus selalu menggunakan istilah-istilah yang tepat, misalnya kata “kasar,dalam artian meniadakan seseorang dari muka bumi”, kata tersebut kurang memberikan pengertian yang konkrit pada fantasi anak muda. Oleh karena itu penggunaan istilah yang khusus akan lebih mendidik kaum muda, misalnya “Claudius runtuh karena disiasati“; Henricus ke Ill runtuh karena dihina”; dan Petrus Iii runtuh karena disenggol”; begitu seterusnya. Jadi, akan lebih baik kalau kita menggunakan nama-nama sebutan dengan tepat, misalnya daripada mangatakan “sebuah kapal perang Jerman”, lebih tepat kalau dikatakan “kapal penjalajah Jerman”, dan seterusnya.

Kita harus bertindak tepat pula dalam hal jumlah atau angka, misalnya: “Kita tidak mengatakan ‘Di medan pertempuran orang-orang Negeri paman sam telah berhasil menghalau musuh-musuhnya  malainkan kita harus mengatakan ‘Orang-orang Negeri paman sam telah berhasil menghalau limapuluh ribu musuh-musuhnya  Adapun metode semacam ini bartujuan untuk mengungkapkan tuntunan yang jelas tarhadap anak didik kita.

Sebagai seorang pendidik kita harus mengusahakan pula supaya ada pengertian yang tapat dan jelas dari kata-kata tersebut. Hal ini dapat kita lakukan dengan jaian iatihan menterjamahkan atau dengan jalan mancari sinonim-sinonimnya ataupun dengan membuat diferensiasi dari bahasa yang sama. Untuk melatih supaya anak didik memiliki kesadaran tersabut dengan jalan anak didik kita beri tugas, misalnya membaca terjemahan-terjemahan anekdot yang tidak tepat.

Untuk dapat berjiwa realistis kita harus barusaha untuk bersikap konkrit di dalam kehidupan dan mempunyai perhatian tarhadap segala hal. Abstraksi-abstraksi itu merupakan suatu pengajaran yang mati. Oleh karena itu kita hendaknya berusaha sedemikian rupa sehingga hal-hal yang kecil itu mempunyai arti bagi anak didik kita.

Hukuman-hukuman yang dijatuhkan harus juga bersifat psychoiogis. Kita sebaiknya memperhatikan dengan seksama bahwa sebenarnya apa yang bagi kita merupakan suatu siksaan atau ganjaran, tidak seialu demikian bagi anak didik. Oleh karena itu kita harus benar-banar mengenal pribadi anak didik supaya huku man yang akan ditrapkan dapat tepat dan konstruktif.

Banyak sanksi-sanksi yang antipsychologis dan tidak menguntungkan. Tindakan yang demikian yang harus kita ubah. Di sini ada bebarapa contoh sebagai berikut:
  • Menyuruh anak didik yang pemalu untuk memberikan ucapan seiamat di muka umum. Ini berarti manghadapkan anak didik pada siksaan batin. .
  • Menyuruh seseorang untuk meminta penielasan pada orang yang hasar bicaranya sambil mengatakan bahwa kita tak pernah bertemu dangan orang semacam itu. lni berarti memberi kesempatan pada sesaorang itu untuk manjadi lebih sombong dari orang lain.
  • Menghukum dengan cara mengambil hak seseorang, seperti tidak bolh ikut berjalan-jalan selama beberapa waktu, dan sebagai gantinya diberi tugas yang lain.
  • Dan Iain-Iain.

Ada beberapa pendidik yang selalu memandang anak didik dari segi kejelekannya saja dan sabaliknya ada juga yang hanya mamandang dari segi kabaikannya saja. Seorang pendidik yang mengenal pribadi anak didiknya, tidak akan menyuruh anak didik yang berbuat gaduh untuk menulis kata-kata seperti ”aku ini malas” sebanyak dua puluh kali sebagai hukumannya. Kita justru harus memberi hukuman yang mengandung semangat. Apabila akan diberi tugas menulis, pilihlah kata-kata seperti “aku akan bekerja lebih baik” dan lain sebagainya. Kira jangan sekali-kaii memberikan tugas-tugas yang tidak senonoh, atau menyuruh mereka untuk menulis ungkapan-ungkapan yang tidak baik. Dengan demikian kita akan menanamkan pada diri anak didik itu pikiran-pikiran yang tidak baik.

Dari hal-hal tarsebut di atas kita dapat malihat betapa dibutuhkan rasa cinta kasih yang mendalam dari pendidik di dalam menerapkan hukuman itu. Suatu hukuman yang dijatuhkan pada tempat dan waktu yang tepat, yang disertai pula dengan membeda-bedakan akan lebih membimbing dan efektif hasilnya. Seiain itu hal ini akan lebih bisa diterima dengan baik oleh anak didik.

Akhir kata : Jadilah seorang pendidik yang bisa melahirkan bibit muda yang berkualitas serta bermoral. ilmu pendidik akan selalu terlihat jelas didalam dunia ini, tak akan pernah pudar. berikan sepositif mungkin kepada anak didik. sehingga mereka mengerti akan mengerti hidup ini.

2 Responses to "Guru Harus Berjiwa Realistis"

bogar Tumpas said...

bisa juga ,,,,dijadikan landasan

bogar Tumpas said...

bisa juga ,,,,dijadikan landasan