Ketekunan Pendidik dan Guru



Ketekunan adalah suatu usaha melangkah sedikit demi sedikit. Dengan kata lain kesabaran untuk melalui sesuatu yang ingin dicapai. Jika kita yakin dengan apa yang ingin kita capai maka kita harus tekun menjalaninya. Ada pepatah yang mengatakan “sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”. Dari hanya sebutir ketekunan jika kita selalu berada disitu sampai berupaya maka butiran usaha kita sedikit demi sedikit akan bertambah dan menghasilkan bukit yang kita inginkan. Ingatlah bahwa ketekunan adalah suatu kekuatan.

Contoh kecilnya adalah Garis yang tercipta dari kumpulan titik-titik. tidak akan ada garis jika tak ada titik-titik yang saling berhimpitan membentuknya. Jika satu titik hilang maka kuranglah panjang dari garis itu.


Memang sulit mempraktekkan suatu perbuatan yang tekun dan mendalam pada diri anak muda kalau mereka sendiri tidak memiliki pengertian kOntinyuitas dan ketekunan. Anak didik bisa menjadi bingung dengan adanya perubahan-perubahan di dalam metode pendidikan. Hal ini dapat saja terjadi karena mereka sebenarnya masih goyah pribadinya, dan masih memerlukan suatu sandaran yang konstan dan mantap. Oleh karena itu tidak ada sesuatu pun yang dapat merusak kewibawaan kecuali kalau kita memberikan kesan akan tindakan yang keras kepala, tidak disiplin, penuh kontradiksi, dan acuh tak acuh dalam menuntut sesuatu yang telah kita perintahkan. lnilah yang justru memerosotkan katekunan.

Keberhasilan dalam mendidik memang harus melalui masa ketekunan. Tak akan ada bibit yang tumbuh dalam satu hari, perlu proses untuk merawatnya sampai menjadi pohon yang berbuah dan dapat dirasakan manfaatnya. Dalalm hal ini, anak didik, bukanlah orang yang sudah mengetahui apa-apa, jadi kita harus camkan makna itu. Kemajuan didikan kita tergantung dari ketekunan yang kita miliki. Ulangi dan ulangi sampai anak didik terlatih.

Sebagai pendidik kita harus berusaha untuk tidak memberikan perintah-perintah yang saling bertantangan. Pada dasarnya kita tidak perlu mengubah peraturan-peraturan yang telah ditetapkan, misalnya mengijinkan apa yang kemarin telah dilarang, dan besok melarang apa yang telah diijinkan bagitu seterusnya. Jadi senantiasa mengubah atau menghapus peraturan-peraturan yang telah ditetapkan. Kita pada dasarnya bukan orang semacam itu, yang mengatakan hari ini putih, besok hitam, dikemudian hari kelabu, dan seterusnya.

Selain itu kita jangan menjadi seorang pendidik atau orang tua yang mula-mulanya manolak apa yang diminta oleh anak didik, kemudian mengijinkannya karena desakan mereka yang terus menerus, dengan ucapan: “Untuk sekarang tidak, tetapi untuk besok”. Sudah banyak kasus orang tua yang tidak mampu mengabulkan permintaan anak didiknya sehingga kekecawaan menjadikan anak didik prustasi. Ini karena adanya janji diawal namun tak mau menepatinya.

Contoh : seorang anak yang menginginkan sebuah kendaraan, dan selalu memintanya kepada orang tua. Namun dengan keadaan financial yang dibawah standar, orang tua tidak mampu membelinya. Karena tidak mau anak didiknya kecewa, maka dengan penuh rasa percaya diri, memberikan janji untuk menunggu beberapa waktu. Namun ketika waktunya tiba, tetap tidak bisa memberkan apa yang di inginkan anaknya.

Ada sébuah peribahasa yang mengatakan bahwa istilah besok mangandung maksud suatu jalan yang membawa kita kepada sesuatu yang tidak akan pernah terjadi. Kasibukan-kesibukan, humor yang tidak sehat, kesehatan yang kurang baik, kepayahan atau kegembiraan yang kita hadapi tidak boleh mendikte manifestasi kewibawaan kita yang tertuju kepada kesejahtaraan dan pembentukan anak didik. Kita harus mengetahui pula agar yang dikehendaki oleh anak didik, kemudian menentukan apa yang baik dan boleh dilakukan, dan mengikutinya hingga pelaksanaannya. Anak kecil merupakan tanaman kecil yang masih lemah. Kalau kita mengadakan perubahan-perubahan yang terlalu menyolok, kita akan menimbulkan kerusakan pada dirinya, seperti halnya cuaca yang cerah secara mendadak dihadapkan pada cuaca dengan angin yang mengandung es, atau pun seperti suatu pengairan yang berjalan terus menerus tanpa ada sedikit pun untuk pengeringan  Suatu metode jika terapkan sacara teratur, dan yang disertai dengan semangat kontinyuitas tentu akan menghasilkan buah yang baik. Pada umumnya sikap yang kurang tekun akan mengakibatkan pula adanya sikap kurang yakin dan kurang semangat. Hal ini justru merupakan cacad seorang pendidik yang dapat menimbulkan kegagalan pada usaha dan karyanya. Oleh karena itu untuk dapat membentuk mental dan kehendak yang kuat, diperlukan adanya koherensi dan ketekunan dalam ide dan palaksanaannya.

Dalam sekolah, Guru yang tekun pasti disenangi oleh muridnya. Ini memberikan arti kepada keseharian muridnya bahwa sesuatu yang memang harus mereka ikuti adalah guru mereka sendiri. Mengajarkan sesuatu memang tidak bisa selalu terus berjalan walaupun ada satu siswa yang masih tertinggal. Berusahalah agar semuanya berjalan secara bersama-sama. Jika pada proses belajar mengajar, ada beberapa siswa yang masih terlihat bingung dengan materi. Berikan sedikit waktu untuk menjelaskan ulang apa yang sudah dijelaskan.

Kesimpulannya adalah ketekunan akan menjadi tiang bagi kita untuk terus bersabar dalam menempuh jarak yang jauh. ketekunan menjadi mesin yang tak akan habis bahan bakarnya. sebagai orang tua maupun guru disekolah akan mendapatkan arti dari seorang pendidik yang sebenarnya ketika sudah melihat hasil dari prestasi anak didiknya lewat ketekunan memdidik yang sudah dilalui.

Akhir kata, semoga ini bisa menjadi pemacu semangat dalam diri kita sebagai seorang pendidik. apa yang kita dapatkan hari ini adalah modal anak didik di hari esok. dunia akan lebih sehat jika anak didik adalah orang yang berakal sehat. Sampai jumpa.


0 Response to "Ketekunan Pendidik dan Guru"