Menjaga Reputasi (prestige) Pendidik



Prestige merupakan suatu pertoiongan yang kuat untuk tegaknya otoritas dan kewibawaan. Oleh karena itu kita tidak memandangnya sebagai sarana untuk memuaskan keinginan pribadi, melainkan untuk meneguhkan respek, dan keberhasilan kerja. Kita mempunyai hak untuk menolak ucapan terima kasih, tetapi kita tidak mempunyai hak untuk menolak respek.

Kadang-kadang suatu prestige itu ditentukan oleh cara berpakaian kita. Mussolini pada tahun 1963 berpendapat bahwa pribadi seorang pemimpin seeara lahiriah harus sudah mengesankan. Setelah itu para hakim, advokat, tentara menjatuhkan keputusan dan perintah dengan scrupulus. Hal ini sudah merupakan suatu keharusan, apabila menolaknya berarti mereka akan menghadapi nasib yang suram. Oleh karena itu kita perlu mempunyai semangat keberanian supaya dapat bersikap tegas.

Ketegasan itu perlu karena anak didik yang masih murni itu memerlukan arah yang jelas, nyata, dan tepat. Banyak ketidak taatan berasal dari penyusunan tata tertib yang tidak baik. Selain itu pengertian tentang isi tata tertib tersebut kadang-kadang kabur, atau tidak jelas maksudnya. Akibatnya anak didik hanya mempunyai pengertian yang setengah-setengah, dan sering mencampuradukkan pengertian-pengertian tersebut. Banyak prinsip direktif dijalankan, tetapi selalu gagal untuk mencapai sasaran. Hal ini dapat terjadi karena para pendidik tidak menguraikannya dengan tepat, juga banyak kekurangan yang telah mereka tanamkan ke dalam jiwa-anak didik yang akhirnya menyebabkan anak didik menjadi cacad. ini semua tentu saja disebabkan oleh para pendidik atau orang tua yang tidak cukup mengungkapkan bahaya-bahaya yang akan ditimbulkannya.

Beranilah untuk melihat kenyataan! Beberapa pendidik ada yang merasa takut untuk menghadapi kesulitan-kesulitan yang ditimbulkannya, yang jelas mereka tidak suka menghadapi bermacam-macam persoalan.

Ada orang yang mengatakan sebagai berikut: "Tugasku telah membuka kedua mataku, tetapi interesku telah menutup kedua mata itu.” Berapa saja pendidik yang bersikap kecil hati, yang mengakibatkan suatu kerugian. Kita seharusnya mempunyai semangat keberanian untuk melihat sesuatu persoalan dari bermacam-macam aspek beserta dengan segala k0nsekuensinya, dan mempertimbangkan terlebih dahulu segala-reaksi yang mungkin dapat timbul.

Pendidik kerap kali kurang berani untuk memberikan perintah. Sebagai gantinya mereka lebih suka untuk memberikan saran, mencari kompromi, atau menghindarkan diri dari tugas tersebut. Perbuatan ini seperti seorang pengemis yang meminta-minta agar perintahnya ditaati, dan dijalankan, dan yang disertai pula dengan bermacam-macam janji atau hadiah sebagai balas jasanya. Kita perlu mengerti bahwa anak didik seorang imam atau mahaguru suatu universitas perlu mempunyai seragam khusus pada kesempatan-kesempatan resmi. Selain itu para pendidik periu memperhatikan juga adanya suatu tanda distinctif demi prestige-nya. Perlu diingat pula bahwa kaum muda sangat peka terhadap rangsangan dalam bentuk seragam khusus. Appearance itu tidak selalu menunjukkan keaslian pribadi yang sebenarnya, tetapi justru menunjukkan adanya perbedaan guna menunjukkan siapa dia.

Suatu prestige tergantung pula pada kualitas fisik seseorang. Orang yang mempunyai kekuasaan harus memperhatikan beberapa hal yang tidak boleh dilupakan dan dilanggarnya, seperti: cara mengambil sikap, cara berjalan, cara melihat, nada suara, kelancaran dalam berbicara, seri wajah, cara menilai, cara menghilangkan kebiasaan yang tidak baik, dan sebagainya.

Yang benar-benar disebut prestige adalah yang berasal dari kualitas moril. Tergantung dari pendidik itu sendiri dalam usahanya untuk memberikan kesan kepada anak didik tentang kedudukan yang luhur dari fungsinya. Perlu kita ingat bahwa prestige itu ada karena adanya ilmu dan kebudayaan. Oleh karena itu kita jangan takut untuk menunjukkannya. Kita tidak perlu menonjolkannya, tetapi kita perlu membiarkannya supaya dilihat oleh yang lain. Montaigne mengatakan bahwa “sedikit itu dari semuanya, dan banyak itu dari sesuatu.”

Prestige itu sebagian besar juga ditentukan oieh energi kehendak kita. Ketika Bonaparte ditunjuk untuk menjadi komandan suatu armada dari ltalia, para jendral tidak menyembunyikan ketidak puasannya.

Augereau berkata sebagai berikut: "Sekarang, lihatlah! Wajahnya akan menentangmu!” Pada saat itu Bonaparte menampilkan diri dalam seragam kebesaran, dan memberikan perintah-perintah tanpa syak atau emosi sedikit pun. Tarnyata tak seorang komandan senior pun dari pasukan itu yang berani untuk mangucapkan sepatah kata, kemudian Augereau tampil untuk mengakukan; diri: ”Percayakah kamu bahwa orang yang kecil itu telah membuatku takut!"

Perlu diketahui bahwa prestige itu ditentukan pula oleh pengertian kita tentang respek yang telah kita nyatakan. Oleh karena itu kita harus melakukan semua tugas demi manyelamatkan hak-hak otoritas kita. Dengan demikian berarti kita juga akan menyelamatkan diri kita sendiri.

Oleh karena itu kita harus mempunyai respek terhadap teman sekerja dan anak didik kita dengan tujuan untuk menimbulkan masa depan yang gemilang pada diri mereka. Mengerti akan kedudukan anak kecil yang kelihatan lemah itu merupakan suatu tanda keluhuran pribadi.

Akhirnya kita harus dapat pula memberikan respek pada diri kita sendiri. Perlu kita ingat bahwa marah-marah berarti merendahkan, dan mengasingkan diri kita sendiri.

Jadi dapat kita simpulkan bahwa prestige itu ditentukan oleh adanya kompetensi profesional, adanya pengertian kita tentang keadilan, cara kita dalam membedakan tata cara, simpati yang gemilang; dedikasi kita yang tak kenal lelah, dan nilai konduite kita. Ini semua tentu saja tergantung dari diri kita sendiri. Anak didik pasti mengenal cacad kita. Mereka bersedia memaafkannya apabila mereka tahu bahwa kita telah berusaha dengan jujur untuk memberantasnya, dan telah mengabdikan diri sepenuhnya pada tugas atau kewajiban kita.

0 Response to "Menjaga Reputasi (prestige) Pendidik"