Pendidik Harus Tahu Batas

Para pendidik hendaknya selalu mernperhatikan batas-batas dengan tepat sebab ada kata-kata yang berbunyi “Ne quid nirnis" yang artinya “tak sesuatu pun yang berlebih-lebihan rnaupun di iuar batas ukuran.” lnilah kata - kata yang seialu diulangi oieh Fransiscus dari Sales.

Kita iangan berlebih-Iebihan dalarn menyanggupi kuantitas tugas yang diserahkan kepada kita. Daiih untuk menerima anak didik yang banyak ialah supaya kita tidak bersikap matas~malasan. lni bukanlah suatu motif untuk dapat menekan anak didik dengan tumpukan pekerjaan. Kita harus lebih memperhatikan kualitas daripada kuantitas pekeriaan, sebab “bukanlah apa-apa yang dirnakan yang rnernbuat kuat badan.” Lebih baik kita mernilih sedikit tugas, tetapi dilaksanakan dengan perhatian yang lebih cermat dari pada memilih banyak tugas, tetapi akhirnya terbengkalai. Bukankah itu memang merupakcan tugas kita untuk menyibukkan diri dengan anak didik? Pekeriaan pribadi hanya menyangkut tugas-tugas yang terbatas yang harus dikerjakan dengan perhatian sepenuhnya. Selain itu kita pun harus ingat bahwa meskipun suatu rnakanan itu baik, tidaklah akan kita berikan pada seorang sakit tanpa ditanya terlebih dahulu apakah makanan itu akan merugikannya atau tidak. Oleh karena itu untuk memperbaiki jerih payah yang telah terhambur, kita memerlukan waktu dua kali lipat dari apa yang telah dihemat untuk menialankan tugas yang berlebih-lebihan.

Para pendidik muda bidang arsitektur


Seorang yang terkenai bernama Fouillee rnengatakan bahwa “setiap pendidik harus selalu berkata pada awal pekerjaannya sebagai berikut: “Aku berdiri di sini untuk mengajarkan hal-hal yang akan segera dilupakan setelah enam buian atau setelah satu tahun lagi. Oleh sebab itu aku harus berusaha mengungkapkan maksudku, yaitu menyelamatkan kapal yang akan karam.“ Lain halnya dengan Plutarchus yang mengatakan bahwa “akal budi itu bukanlah suatu bejana yang harus diisi sampai penuh, meiainkan suatu tempat yang harus selalu dipanasi.” Sedangkan Montaigne mengutip pendapat Corneille yang berbunyi: “Aku Iebih senang menempa jiwaku, dari pada menghiasinya dengan perabotan rumah tangga.“ Oleh karena itu kita harus letnh mengutamakan tugas ”membéntuk” daripada “hanya member pelajaran semata-mata.” Lebih baik lagiapabiia kita membatasi hal kuantitas karya yang dibebankan pada klta. Hai ini untuk menghindari supaya klta tidak terlalu lelah, dan juga supaya persatuan kita tidak terpecah belah serta tidak mengahbatkan timbulnya ekses-ekses di dalam tuntutan hidup kita. Jadi, “.Janganlah menuntut apa yang tidak mungkin.“

kita harus tahu batas pula dalam memberikan sanksi-sanksi. Selain itu kita jangan berlebih – lebihan  pula dalam memberikan pujian-puiian sebab hal tersebut dapat menjadi racun  bagi anak didik yang baik, dan sangat disayangkan pula apabila pujian itu tidak ditanggapi dengan serius oleh anak anak didik. Kamipernah melihat  seorang anak muda yang mendapatkan pujian bertubi – tubi dari pemimpinnya, tetapi kenyataannya ia hanya bersenda gurau dengan teman-ternannya.

Hukuman-hukuman dan teguran-teguran kita trapkan bila perlu. Apabiia KIta memperbanyak sanksi, tetapi akhirnya tidak menghasilkan sesuatupun, kita sebalknya beralih pada hukuman tertulis yang berbentuk singkat, cermat, dan bijaksana.

Kita harus tahu batas pula dalam hal pemberian nilai. rupanya beberapa pendidik hanya mengetahui batu uji yang ekstrirn, seperti nilai-nilai yang hamper menunjukkan kesempurnaan atau yang mendekati nilai nol. Adanya Nuansa – nuansa dalam pemberian nilai merupakan suatu hal yang penting. Hal ini akan memberik semangat serta mendorong anak didik asal disertai dengan penjelasan mengenai kemajuan dan kemundurannya.

Akhirnya  kita harus membatasi pula dalam memberi penerangan dan semangat. Kita sebaiknya berusaha untuk tidak menyodorkan jasa dengan keterangan-keterangan yang panjang lebar, seperti ”seorang kaisar atau seorang komentator yang sedang berpidato.” Oleh karena itu kita berusaha Menghindari penerangan – penerangan yang membosankan dan yang tidak ada gunanya karena hal ini bisa rnempengaruhi perhatian anak didik kita.


La Fontaine pernah mengatakan dalam pidato-pidatonya bahwa ”ceramah - ceramah yang fasih tidak akan menghasilkan sesuatu bahkan pendengarnya tidak mengerti yang dimaksudkan. Pendengar hanya memujinya tanpa mengetahui isinya”.

Contoh kasus dalam sekolah adalah : ketika dalam suasana belajar mengajar, maka sebelum memulai kita harus punya bekal akan batasan - batasan sebagai seorang guru. dimana dengan batasan ini kita tidak akan melewati batas dari profei pendidik itu sendiri. membuka pembahasan baru yang keluar dari pelajaran yang diajarkan adalah salah satu insiden keluar batas. dimana pemikiran siswa akan menjadi teracak karna bercampur dengan suasan baru. atau berusaha untuk menceritakan diri ditengah siswa yang secara berlebihan dapat mengurangi minat belajar siswa, yang sudah terlanjut terpana dengan cerita pengalaman pendidik. maka dari itu, fokus memang tujuan utamanya.

0 Response to "Pendidik Harus Tahu Batas"