Sejarah Sistem Pemerintahan Kerajaan Singasari

Kerajaan yang dulu berada di kawasan Jawa Timur ini didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222 M. Jika diperkirakan pada zaman sekarang, kerajaan ini berlokasikan di daerah Singosari, Kabupaten Malang. Kerajaan Singosari yang ber ibu kotakan di Tumapel ini hanya bertahan selama 70 tahun semenjak kerajaan ini didirikan. Hal ini karena adanya Sistem Pemerintahan Kerajaan Singasari yang berubah-ubah.

Sejarah Sistem Pemerintahan Kerajaan Singasari


Sebelum Kerajaan Singasari berdiri di bawah kekuasaan Ken Arok. Ken Arok masih menjabat sebagai Bupati di Tumapel menggantikan Tunggul Ametung yang meninggal karena dibunuh olehnya sendiri. Sebelum Tumapel menjadi ibu kota Kerajaan Singasari, Tumapel masih di bawah naungan Kerajaan Kediri. Yang akan dibebaskan oleh Ken Arok dari kekuasaan Kediri. Oleh sebab itu lah kepemimpinan beralih ke tangan ken Arok.

Raja Ken Arok | 1222 - 1227

Dalam kitab Paraton peninggalan dari kerajaan Singasari menyebutkan bahwa raja pertama sekaligus pendiri Kerajaan Singasari yaitu Ken Arok. Dan akan memerintah dalam kisaran tahun 1222 – 1227 M. Pemerintahan yang hanya berjalan selama 5 tahun di bawah kepemimpinan ken Arok harus berakhir. Karena dibunuh oleh suruhan Anuspati yang tidak lain merupakan anak tiri dari Ken Arok sendiri. Raja yang gugur karena dibunuh ini bergelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabumi.

Raja Anuspati | 1227 - 1248

Setelah Ken Arok meninggal, kepemimpinan secara otomatis beralih kepada anak tiri Ken Arok yaitu Raden Anuspati. Yang memerintah dalam kisaran waktu 1227 – 1248. Bukan kemajuan yang dialami oleh kerajaan Singasari, malah kebobrokan seorang Raja secara jelas ditampilkan. Sehingga kerajaan yang masih tergolong baru ini tenggelam sementara. Karena gaya kepemimpinan hedon yang di bawah pimpinan Anuspati tidak mendulang prestasi yang baik.

Ketika Anuspati tengah menikmati kesenangan yang berupa kegiatan sabung ayam. Dengan secara tiba-tiba Tohjoyo yang sangat muak dengan gaya kepemimpinan Anuspati langsung membunuh Anuspati. Dengan bilah keris buatan Empu Gandring, sehingga menyebabkan Anuspati meninggal dunia yang didharmakan di Candi Kidal.

Raja Tohjoyo

Sepeninggal Anuspati di tangan Tohjoyo, membuat Tohjoyo duduk di kursi pemerintahan Singasari menggantikan Anuspati. Namun seperti yang sudah terjadi sebelumnya, pemerintahan yang berlandaskan pertumpahan darah tidak akan berjalan lama. Anak dari Anuspati menaruh dendam terhadap Tohjoyo. Dendam tersebut terbesit ingin menurunkan tahta kerajaan yang saat itu berada di bawah kepemimpinan Tohjoyo.

Niat itu akhirnya terwujud. Dengan bantuan Mahesa Cempaka, Ranggowuni yang merupakan anak dari Anuspati berhasil menggulingkan kekuasaan Tohjoyo. Setelah Tohjoyo turun dari kekuasaannya, secara otomatis kerajaan pindah kekuasaan ke tangan Rongowuni.

Raja Ronggowuni | 1248 - 1268

Ronggowuni berkuasa pada kisaran antara tahun 1248 – 1268 dengan warisan gelar Sri Jaya Wisnuwardana. Setelah bertahun-tahun berkutat dengan pertumpahan darah akibat saling membunuh satu sama lain. Akhirnya di bawah kepemimpinan Ranggowuni, Singasari kembali kepada masa kejayaannya. Rakyat merasa tentram dan penuh dengan kesejahteraan. Setelah cukup lama memerintah di kerajaan Singasari, Ranggowuni menunjuk putra mudanya sebagai raja muda.

Raja Kartanegara | 1268 - 1292

Menunjuk Kertanegara, putra Ranggowuni menjadi raja muda bukan tanpa maksud dan tujuan. Ranggowuni mempersiapkan Kertanegara untuk menjadi raja yang besar di Kerajaan Singasari. Usaha ayahnya tersebut membuahkan hasil. Setelah naik tahta, Kertanegara mengemban amanah ayahnya dengan sangat baik.

Di masa pemerintahannya yang berada pada kisaran 1268 – 1292 membuktikan bahwa dia mampu menjadi raja yang besar di bidang politik. Selain itu ia terkenal sebagai raja yang memiliki cita-cita ingin meluaskan kawasan Singasari yang meliputi seluruh kawasan Nusantara.

Usaha-usaha yang telah dilakukan untuk memperluas kawasan kerajaan sangat banyak, diantaranya:
Kertanegara mengirimkan sebuah perjalanan menuju Melayu. Bertujuan untuk menghidupkan kerajaan Melayu di kawasan Jambi yang tak lain untuk menyaingi kekuasan kerajaan Sriwijaya.

Tidak hanya mengirimkan ekspedisi ke kawasan elayu di Jambi, Kertanegara mengirimkan ekspedisi pula ke kawasan Bali untuk memperluas kerajaannya. Usahanya berhasil dalam menaruh pengaruh, kepercayaan, dan kekuasaannya di sana.

Tahun 1286 Kertanegara mengirimkan sebuah Patung beserta pengiringnya yang berjumlah 14 kepada raja melayu.

Upaya yang selanjutnya dilakukan oleh Kertanegara yaitu pada tahun 1289 ia mendudukkan beberapa kawasan Jawa Barat di suatu tempat. Seperti Pahang ditempatkan di kawasan Melayu, dan Tanjungpura didudukkan di kawasan Kalimantan. Hal itu dilakukan karena daerah-daerah tersebut dianggap strategis untuk menghadang ekspansi tentara Mongol.

Tidak hanya pemerintahan yang berkembang pesat di bawah kepemimpinan Kertanegara, namun juga perkembangan agama juga sangat berkembang di sana. Di Singasari telah berkembang pusat peradaban agama Budha dengan aliran Tantrayana. Aspek lainnya pun seperti sektor pertanian, perdagangan serta pelayaran juga mampu dikembangkan oleh Kertanegara selama masa kepemimpinannya.

Kejayaan Singasari harus runtuh ketika Kertanegara dibunuh oleh Jaya Katwang seorang raja dari Kediri. Beberapa peninggalan kerajaan Singasari ini yaitu berupa beberapa Candi diantaranya Candi Kidal, Candi Jago dan Candi Singasari. Selain itu beberapa patungpeninggalan pun juga menjadi saksi sejarah bahwa Singasari pernah ada dan pernah jaya. Patung-patung tersebut antara lain patung Ken Dedes sebagai lambang kesempurnaan ilmu, Patung Kertanegara dan Patung Amogapasha.

Baca juga :

Sejarah Sistem Pemerintahan Kerajaan Singasari